Disiplinkan Pokemon Di Sekolah

IMG-20160714-WA0006

Palembang – Merebaknya permaianan Pokemon Go di kalangan pelajar meresahkan tenaga pendidik dan orangtua. Pasalnya, permainan ini membuat siswa lupa akan waktu belajar karena sibuk menangkapi pokemon di ruang lingkup sekolahnya.

Terkait adanya himbauan Gubernur Sumatera Selatan mengenai meresahkannya permainan Pokemon Go, membuat Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan Widodo angkat bicara. Beliau sangat mendukung himbauan dari Gubernur Sumatera Selatan untuk semua PNS dan masyarakat, terutama pelajar agar tidak terjebak pada hal-hal yang tidak produktif dan harus menjadi gambaran untuk diterapkan.

“Lebih baik mengejar prestasi dari pada sibuk menangkap Pokemon. Kan Sumsel saat ini sedang membangun ketertinggalannya dari daerah maju lainnya, dan berusaha mengejar untuk jadi provinsi terdepan. Untuk itu, kita semua sesuai bidangnya harus bekerja keras dan belajar sungguh-sungguh guna mendukung cita-cita tersebut,” ujar Widodo di ruang kerjanya, Kamis (21/07).

Menurutnya, mengingat semua masyarakat Sumatera Selatan tidak mungkin menjadi daerah yang menutup diri terhadap perkembangan teknologi, maka ada beberapa aspek penting yang harus dipandang positif.

Yang pertama, anak harus diberi arahan secara intens bahwa tugas utama mereka adalah belajar. Bermain adalah bagian dari dunia anak tetapi harus dipantau waktunya kapan dan berapa lama anak boleh dan bisa bermain. Kedua, untuk itu orangtua dan guru di sekolah harus berkoordinasi mendidik dan mengarahkan anak mengenai kemajuan zaman.

Ketiga, untuk bisa mendampingi anak maka baik orangtua maupun guru harus tahu dan lebih update mengenai perkembangan dan kemajuan teknologi itu. “Sehingga tidak jadi bulan-bulanan anak-anak kita yang biasanya lebih update teknologi terkini,” tegasnya.

Kesimpulannya, lanjut Widodo, pihaknya tidak bisa melarang semua orang untuk bermain Pokemon Go. Pasalnya, Indonesia bukan negara tertutup anti sosial.

“Hal yang harus dilakukan bukan melarang tetapi mendisiplinkan anak-anak kita untuk bisa memilih dari waktu, konten, dan tetap mengedepankan tanggung jawab mereka untuk berlajar dan bersosialisasi,” pungkasnya. (korankito.com/eja)