SMPN 14 Terima 20% Kursi Pendidikan Inklusi

Ujian Sekolah Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Palembang – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di pendidikan Inklusi atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Palembang sangat terbatas. Ini membuat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 14 Palembang menyiapkan 20 persen dari total kursi yang ada. Dari total 57 SMPN yang ada di Palembang hanya SMPN 14 Palembang yang menerapkan Pendidikan Inklusi.

Kepala SMPN 14 Palembang Magdalena, S.Pd, M.M mengatakan untuk tahun ajaran baru di SMPN 14 Palembang, pihaknya menerima 20 persen siswa ABK dari kuota sebanyak 392 siswa/i tersebut. Sedangkan tahun kemarin saja ada 50 siswa yang ABK. “Saat ini kami belum bisa mengetahui berapa jumlah siswa baru yang ABK, Walaupun begitu kita harus menyiapkan kursi buat mereka, biasanya 1 kelas itu diisi sebanyak 4 sampai 5 orang,” jelas dia.

Setelah masuk dihari pertama tepatnya pada 18 Juli nantinya, akan ada beberapa tes psikolog kepada anak. Lalu dari sana akan terjaring mana siswa yang bisa dikatakan siswa yang ABK atau tidak. “Untuk tes psikolog sendiri dilakukan oleh guru Bimbingan Konseling (BK). Halnini bertujuan untuk menjaring siswa-siswi yang berkebutuhan khusus,” tegasnya.

Lanjutnya, Alhamdulilah sejak didirikannya 2014 lalu pendidikan inklusi di SMPN 14 Palembang tetap berjalan, anak-anaknya bisa melanjutkan ke jenjang sekolah yang kebih tinggi seperti biasa, ada yang sudah pintar terutama dalam hal bermain musik dan kesenian. Pihaknya memang menyediakan sebanyak 20 persen dari total kursi yang ada.

“Untuk penerimaan sama seperti di SDN 30 Palembang, ada 2 kriteria pertama siswa tidak Buta dan kedua Bisu. Hal ini sudah berlangsung sejak 2014 lalu,” tuturnya.

Kebanyakan alumni disini ada yang ke sekolah alam dan sekolah di swasta. Magdalena mengaku, kalau sepengetahuannya untuk SMA Negeri belum ada yang menerapkan pendidikan inklusi.

“Tapi kebanyakan pendidikan inklusi ini dari sekolah Swasta. Soalnya pengajar atau tenaga pendidik sendiri alhamdulilah sudah dilakukan pelatihan bagaimana cara mengahadapi siswa ABK,” ungkapnya.

Jadi pada saat mereka masuk yang tahu siswa itu ABK hanyalah guru saja yang boleh mengetahuinya, hal ibi dicanangkan supaya menjaga perasaan si anak makanya guru memberikan arahan kepada temannya, untuk tidak mengejek tapi harus diberikan suport atau semangat.

“Ya, kriteria yang diambil Autis ringan dan anak hyperaktif, apalagi mereka dibaurkan dengan anak lain tentu siswa yang ABK akan semakin membaik,” bebernya.

Selain itu, untuk sarana dan prasarananya terutama pendidikan inklusi ini pihaknya memakai sarana seadanya, seperti alat drum band, melukis dan lainnya yang berbaur kesenian.

“Kedepan kami berharap pemerintah bisa memfasilitasi apa yang mereka butuhkan, supaya pendidikan di SMPN 14 Palembang semakin bagus dan dapat bersaing dengan SMP Negeri di Nasional maupun Internasional,” pungkasnya. (korankito.com/eja)