Harga Tempe Alami Kenaikan

IMG_20160627_095709_AO_HDR

Palembang – Tingginya kebutuhan masyarakat yang ingin mengkonsumsi tempe untuk makanan sehari-hari pasca lebaran, membuat harga tempe di pasaran menjadi tinggi. Bahkan tingginya permintaan itu membuat tempe yang biasanya banyak dijual kini mengalami kelangkaan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan Permana mengatakan, pihaknya sudah menerjunkan tim khusus pemantau kebutuhan pokok di Sumatera Selatan. Seperti di Palembang, Ogan Ilir, Prabumulih dan Banyuasin. Namun, diakuinya, tempe memang sulit ditemukan.

“Tempe dan oncom itu dibuat oleh orang Jawa yang tinggal di Sumatera Selatan. Karena kebanyakan dari mereka yang belum kembali dari mudik lebaran. Hal inilah yang menyebabkan tempe sulit ditemukan,” beber dia.

Pedagang masih liburan, Ia menuturkan selain karena pedagang yang belum kembali dari mudik lebaran,k elangkaan ini juga karena proses pembuatan tempe menggunakan proses permentasi yang butuhkan waktu lama. Permentasi untuk tempe tak bisa dibuat hanya 2-3 jam, melainkan butuh waktu sekitar 2-3 hari.

“Dari prediksi di lapangan, tempe akan mulai membanjiri pasar kembali pada 2 minggu pasca lebaran. Permintaan di pasar cukup banyak, tapi pasokannya kurang,” jelas dia.

Lanjutnya, produksi tempe di Palembang sendiri cukup besar, produksi tempe ini masih dikerjakan oleh industri rumahan. Banyak proses pembuatan tempe berada di pinggiran kota dan distribusinya ke Sumatera Selatan.

Salah satu pedagang Pasar KM5 Palembang Maimunah mengungkapkan, dirinya tak menjual tempe seperti jumlah biasanya. Biasanya ia menjual sekitar 300 bungkus ukuran sedang, dan 200 tempe daun, namun pasca lebaran ini hanya menjual sekitar 50 bungkus tempe saja. “Belum banyak produsen tempe yang menyuplai tempenya. Mungkin karena banyak rumah produksi yang masih libur,” ujarnya.

Untuk mendapatkan pasokan tempe itu, ungkapnya, ia harus mencari dan memesan ke daerah lain. Saat ini ia mengaku mengambil pasokan tempe dari Muara Enim. “Karena itu yang bisa saya jual tempe yang tak segar seperti biasanya. Kondisi tempe ini sudah telat satu hari dan mengkerut. Tempe kan tidak bisa disimpan terlalu lama. Ini memang dari pasokannya seperti ini,” tegasnya.

Akibat dari kelangkaan ini menyebabkan harga tempe lebih mahalbdari biasanya. Untuk harga tempe ukuran besar biasanya Rp2500 naik menjadi Rp4000, ukuran sedang dari Rp2000 menjadi Rp2500 dan ukuran kecil dari Rp1000 menjadi Rp1500.(korankito.com/eja)