Bentuk Tim Pananggulangan Karhutla

IMG_2161

Palembang – Untuk mencegah terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar rapat pengendalian Karhutla di ruang rapat posko satgas karhutla. Rapat tersebut untuk meningkatkan koordinasi di semua pihak yang terkait sehingga membentuk tim khusus pemburu pembakar hutan dan lahan, Jumat (15/7).

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumsel, H Mukti Sulaiman mengatakan, kegiatan ini melibatkan pemerintah daerah, TNI dan Polri serta instansi yang terkait, oleh sebab itu, untuk tugas masing-masing agar selalu bersinergi harus dikoordinasikan. “Kita juga telah bentuk pos karhutla yang menyebar di 153 desa dan 82 kecamatan yang ada di Sumsel, pos ini menyebar di empat kabupaten yakni, Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin dan Muara Enim,” katanya

Lebih lanjut Mukti mengatakan, dengan adanya posko yang menyebar di empat kabupaten ini bisa berjalan dengan efektif sehingga lebih meringankan untuk mengatasi karhutla. “Kebakaran ini menimbulkan dampak negatif seperti kesehatan, ekonomi, kerugian negara dan lainnya, kita mengaharapkan koordinasi bagi seluruh instansi yang terkait semakin solid, kita juga mempunyai lahan gambut kurang lebih sebesar 800 ribu hektar dan ini banyak sekali, sambung dia, kita tidak menanggulangi secara biasa-biasa saja tetapi harus menangani secara koordinasi,” ujarnya

Sementara itu, Komandan Korem 044/Garuda Dempo, Kolonel Infantri Kunto Arief Wibowo mengatakan, tim pemburu pembakar hutan dan lahan sebenarnya mengintensifkan semua personil baik TNI dan Polri yang menyebar di Sumsel untuk lebih aktif dalam menemukan pelaku pembakaran hutan dan lahan .

Kunto Arif menambahkan, tim pemburu pelaku pembakar hutan dan lahan itu dioperasionalkan untuk contoh kasus kejadian kebakaran di area lahan milik PT BMH di Ogan Komering Ilir. Pada saat itu, telah terjadi karhutla dan saat petugas ingin mengecek dan memadamkan api, terjadi ancaman berupa tembakan senjata api di lokasi tersebut. Katanya

“Kami sudah buat riset, walau di lahan gambut asal tidak ada yang membakar lahan maka tidak akan ada kebakaran yang meluas. Jadi masalah awalnya itu karena memang ada pihak yang sengaja membakar,” tuturnya

Lanjut ia mengatakan, Melalui tim riset yang dibentuk Korem 044/Gapo, telah menghasilkan sebuah temuan berupa tekhnologi yang diberi nama Nusantara Gapo 44 (Busa Anti Api) yakni cara untuk mengatasi terjadinya kebakaran dan BOIS 44 yang merupakan tekhnologi untuk pencegahan terjadinya kebakaran khususnya didaerah lahan gambut.

Dijelaskanya, Busa Anti Api  merupakan terapan tekhnologi penanganan kebakaran dengan menggunakan cairan yang aman dan ramah lingkungan serta sangat cocok diterapkan pada jenis kebakaran bahan bakar berbasis minyak maupun kebakaran benda padat. Sedangkan tekhnologi BOIS 44 yang digunakan untuk pencegahan terjadinya kebakaran berupa cairan paduan mikriorganisme yang disatukan telah ditebar di wilayah lahan gambut yang ada di OKI dan Banyuasin.

“Kedua tekhnologi ini baik Nusantara Gapo 44 (Busa Anti Api) dan BIOS 44 harganya jauh lebih murah dan jangkauan pemadamannya lebih luas dibanding dengan bahan lainnya,” terangnya

Kemudian ditambahkan, Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Bandara SMB II Palembang, Agus Santosa mengatakan, data iklim di statemet  SMB II Palembang hingga juli 2016 di musim kemarau masih normal, suhu udara maksimum ada kenaikan, lemabab nisbi minimum terjadi penurunan dan curah hujan mulai berkurang, fenomena asap tidak ada, jarak pandang masih normal.

“Kondisi suhu muka laut di wilayah Indonesia secara umum relatif hangat sehingga suplai uap air masih cukup tinggi dan peluang hujan masih akan terjadi, secara Probabilistik berpeluang terjadinya La Nina sekitar (57%),” tuturnya.

Ia menambahkan, berdarkan rata-rata ensembei model dinamis menunjukan peluang La Nina lemah. “saat ini harus diwaspadai kekurangan air sehingga menyebabkan potensi kebakaran hutan dan lahan,” kata Agus

Menurutnya, prediksi curah hujan bulan Juli mulai berkurang. “Perlu diwaspadai kekurangan air dan kebakaran lahan disekitar Sumatera yang sudah tidak ada hujan 6-20 hari dan diprediksi beberapa hari kedepan curah hujan masih rendah,” pungkasnya. (korankito.com/reno)