Bisa Dipercaya

Tak Puas Dengan Vonis Hakim, Robert Nyatakan Banding

IMG-20160713-WA000

Palembang – Robert Oknum PNS Disdikpora Palembang, menyatakan banding atas vonis yang dijatuhkan majelis hakim selama enam tahun dengan denda sebesar 800 juta subsidair 2 bulan penjara.

Sidang dengan agenda putusan ini kembali digelar di Pengadilan Negeri Klas 1A Khusus Palembang, Rabu (13/7). Didalam amar putusannya, Ketua majelis hakim Togar SH menegaskan bahwa terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 112 ayat 1 Undang undang No 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Berita Sejenis

Ogan Ilir: Bandar Narkoba Diringkus Polisi

Terlilit Utang, Bambang Main Sabu

Dua Wanita Bandar Narkoba Dituntut 15 Tahun

1 daripada 31

“Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama enam tahun dan denda Rp 800 Juta subsider dua bulan kurungan,” ujarnya.

Sontak setelah mendengar putusan hakim raut wajah Robert nampak syok, namun terdakwa tetap diberikan hak menerima ataupun menolak putusan hakim dengan mengajukan banding.

Setelah berkonsultasi dengan penasehat hukumnya Harma Ellen dari Pos Bakum PN Palembang, terdakwa langsung mengambil sikap untuk menyatakan banding atas vonis yang dijatuhkan hakim terhadap dirinya.

“Saya banding,” ungkap terdakwa.

Oleh karena itu, sambung Togar, putusan belum memiliki kekuatan hukum tetap, namun pemeriksaan perkara terdakwa ditingkat pertama sudah selesai. “Sidang Ditutup,” tuturnya.

Ditemui usai sidang, Advokat Harma Ellen mengatakan keputusan mengajukan banding adalah murni keinginan terdakwa. “Terdakwa memang ingin banding itu hak terdakwa jadi saya mengikuti saja,” ulasnya.

Bahwa dalam persidangan sebelumnya terdakwa Robert dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rakhmat Taufani, dengan pasal  112 ayat 1 undang undang No 35 tahun 2009 tentang narkotika, dengan pidana penjara sembilan tahun dan denda Rp 800 juta subsider enam bulan kurungan.

Penangkapan terdakwa Robert merupakan pengembangan dari penangkapan empat terdakwa Wononito (35), Moh Yasin (30), Herlansyah (38) dan Dervy Iskandar (40). (berkas terpisah). Perbuatan tersebut terungkap sabtu 20 februari 2016 sekitar pukul 22.30 wib. Anggota BNN melakukan penggerebekan dan didapati empat terdakwa yang seleai mengkonsumsi narkoba.
BNN mengamankan alat hisap sabu dan sepaket sabu di lokasi penggerebekan . Lalu ditemukan Handphone milik terdakwa Winonito yang didalamnya berisi SMS dengan terdakwa Robert.
Lalu BNN mendatangi rumah terdakwa Robert dan melakukan pengembangan hasilnya didapati dua paket sabu seberat dari kamar anak terdakwa. Setelah itu kembali lagi ke kantor Disdikpora kembali ditemukan sepaket sabu dan dua butir pil ekstai dari laci dekat meja kerja terdakwa Robert. (korankito.com/ria)