Syaidina Ali : Pemkot Tidak Siap Rekayasa Jalan 

Pengalihan arus jalan yang dilakukan petugas Dinas Perhubungan Kota Palembang saat mengalihkan arus bagi kendaraan roda dua dan empat untuk tidak melintas dipelataran Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang. Pengalihan arus ini sempatg membuat kemacetan.

Pengalihan arus jalan yang dilakukan petugas Dinas Perhubungan Kota Palembang saat mengalihkan arus bagi kendaraan roda dua dan empat untuk tidak melintas dipelataran Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang. Pengalihan arus ini sempatg membuat kemacetan.

Palembang – Penutupan Jalan Sultan Mahmud Badaruddin yang berada di kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) dengan mensterilkan kawasan tersebut dari kendaraan baik roda dua maupun roda empat sangat disayangkan oleh beberapa kalangan. Tak terkecuali, Pengamat Transportasi, H. Syaidina Ali. Menurut Syaidina Ali, akan banyak dampak yang ditimbulkan dari penutupan jalan Darussalam tersebut.

“BKB itu jalur urat nadi ke Ampera, kenapa harus di tutup,” katanya, Rabu (13/7) saat diwawancarai melalui telepon.

Menurut Syaidina Ali penutupan jalan Sultan Mahmud Badaruddin yang dilakukan oleh pemerintah kota yang dilakukan sejak kemarin membuktikan pemerintah kota tidak siap untuk melakukan rekayasa jalan. Karena untuk menutup fasilitas umum harus didahului dengan melakukan sosialisasi terlebih dahulu. Ada banyak pihak yang harus dilibatkan dalam sosialisasi tersebut.

Untuk sosialisasi sendiri tentunya dengan melibatkan unsur terkait sebagai penyampai informasi ke masyarakat umum yang menjelaskan mengapa dan untuk apa jalan tersebut di tutup. Selain itu rekayasa jalan yang nantinya akan di gunakan untuk angkutan umum bagaimana dan untuk pribadi bagaimana.

Itu lah mengapa di butuhkan nya sosialisasi serta seminar seminar yang melibatkan pakar-pakar transportasi di dalamnya. Jadi nantinya akan didapatkan beberapa alternatif rekayasa jalan yang bisa di gunakan. “Melalui sosialisasi dan seminar dapat dilihat opini dari masyarakatnya. Nah apakah sudah dilakukan oleh pemerintah kota,” tanya Syaidina.

Pada saat jalan BKB tersebut nantinya ditutup akan banyak dampak yang ditimbulkan dari penutupan tersebut. Dampak yang ditimbulkan akan ada di parkir, ampera dan merdeka. Akan ada  banyak sistem yang terganggu dari penutupan Jalan BKB.

Syaidina Ali menambahkan untuk mengurai kemacetan di bawah Jembatan Ampera seharusnya sejak dulu angkutan umum untuk jurusan Plaju-Ampera, Ampera-Plaju dihilangkan. Apalagi saat ini sudah ada moda transportasi yang lebih nyaman seperti transmusi.

Namun lagi-lagi pemerintah kota seakan terkesan lamban dalam mengupayakan penghabisan angkutan umum dan menggantinya dengan transmusi. Lebih lanjut tambahnya tak dipungkiri pembangunan-pembangunan yang sedang dilakukan oleh pemerintah kota Palembang untuk mempercantik kota Palembang dan menunjukkan icon kota Palembang dengan membangun tugu di BKB sangat baik.

Namun demikian seharusnya juga dengan memperhatikan skema tata ruang. Apalagi dengan membangun tugu di BKB. “BKB itu pelataran tempat berkumpulnya masyarak umum bukan tempat tugu. Kalau mau membangun tugu bangunlah di kawasan 7 ulu,” tukasnya.

Sementara itu pasca dua hari ditutupnya akses jalan Sultan Mahmud Badaruddin Benteng Kuto Besak (BKB), Selasa (12/7) ternyata masih banyak masyarakat umum terutama pengguna kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang belum mengetahui penutupan jalan BKB tersebut. Pantauan korankito.com, Rabu (13/7) tampak masih ada beberapa pengendara roda dua yang mencoba untuk masuk arah BKB.

Bahkan tidak sedikit pula kendaraan yang harus putar balik ketika mengetahui jalan masuk BKB ternyata telah di tutup. Tampak beberapa orang petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang yang sigap mengawasi dan memberikan arahan pengendara kendaraan yang mencoba untuk masuk ke BKB untuk memutar balik atau memutar melalui samping Restoran BKB lurus menuju arah kantor walikota dan kembali masuk ke jalan Merdeka.

Tidak urung hal ini membuat banyak kendaraan bingung sehingga terjadi kemacetan dari arah jalan samping Restoran BKB menuju kantor Walikota. Untuk warga yang akan berangkat menggunakan akses sungai diperbokehkan untuk melintasi BKB dengan berjalan kaki.

Untuk rekayasa jalan sendiri, saat ini Dinas Perhubungan Kota Palembang kembali membuka rekayasa jalan alternatif untuk pengendara dan angkutan umum yang akan menuju ke Ampera. Rekayasa jalan yang dilakukan Dishub tersebut melalui jalan Merdeka menuju Rumah Tahanan (Rutan) Wanita Merdeka melewati median jalan dan memotong jalan di depan kantor pos langsung menuju samping kantor pos. Sempitnya ruas jalan akibat dibagi duanya jalan dari arah Ampera menuju Merdeka sebenarnya berpotensi menyebabkan kecelakaan.

Menanggapi hal tersebut Kepala Dinas Perhubungan Palembang, Sulaiman Amin mengatakan penerapan alternatif rekayasa jalan saat ini sudah dilakukan dengan membuka jalur baru. Menurut Sulaiman Amin jika sebelumnya rute rekayasa jalan semua kendaraan melintas di belakang BKB. Namun mulai hari ini rutenya melalui jalan depan BKB.

“Kendaraan yang melaju dari jalan Merdeka akan menuju ke Ampera bisa melalui jalan di depan Rutan Wanita Merdeka melintasi median jalan dan memotong jalan di depan kantor pos,” jelasnya.

Mengenai potensi besarnya kecepatan yang bisa terjadi akibat adanya pembagian ruas jalan dalam satu lajur menurut Sulaiman Amin akan di siasati dengan memberikan lampu pengatur lalu lintas yang akan di pasang pada hari ini juga.  “Nanti malam sudah akan dipasang lampu pengatur lalu lintas tersebut,” tukasnya. (korankito.com/ria)