Dinkes Imbau Agar Waspada Vaksin Palsu

 

IMG_20160701_093720_HDRPalembang-Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan mengeluarkan surat edaran terkait vaksin palsu kepada seluruh Dinkes Kabupaten/Kota. Surat edaran ini meneruskan surat edaran dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan RI 24 Juni 2016 nomor : TU.02.06/D.1/Ii.4/912/2016.

 

Hal ini di sampaikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, Lesty Nuraini, Jumat (1/7). Selain ditujukan kepada Dinkes kabupaten/kota, surat edaran tersebut juga diberikan kepada Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Sumsel.

 

Menurut Lesty, saat ini tim pengawas dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) sudah turun ke lapangan untuk melakukan penyisiran terhadap fasilitas-fasilitas kesehatan, RS, apotek mengenai pendistribusian vaksin yang diduga palsu. “BPOM akan mengambil sampel untuk diteliti namun sampai hari ini belum ada temuan vaksin palsu,” kata Lesty.

 

Lesty menjelaskan vaksin-vaksin yang di distribusikan oleh Dinkes Provinsi ke Dinkes Kabupaten/Kota se-Sumsel adalah vaksin yang di produksi oleh PT Biofarma Bandung yang merupakan distributor resmi yang bekerjasama dengan Pihak pemerintah pusat.

 

“Jadi kalau beli dari distributor resmi, Insya Allah tidak akan ada yang palsu. Jadi DinkesProvinsi dapat distribusi dari Kemenkes kemudian Dinkes provinsi ke kabupaten/kota dan Dinkes kabupaten/kota distribusi ke RS, Puskesmas, Klinik dan lain-lain,” tambahnya.

 

Lesty mengimbau kepada seluruh pelaksana pelayanan imunisasi baik Pemerintah maupun swasta untuk memeriksa kembali sumber pembelian vaksin BCG, campak, polio, hepatitis B dan tetanus toksoid di Rumah Sakit atau klinik yang ada di Sumsel, jika sumber pembelian vaksin diragukan mohon agar vaksin tidak digunakan, belilah vaksin dari distributor resmi PT Biofarma atau menggunakan vaksin yang tersedia di Dinkes kabupaten/kota atau Puskesmas terdekat.

 

“Kita juga berharap pelaksana pelayanan ikut dalam memantau dan segera melaporkan ke Dinkes atau Balai POM setempat apabila ada vaksin yang diragukan,” ujarnya.

 

Sementara itu Kabid PMK Dinkes Provinsi Sumsel, Matdani Nurcik menerangkan, ciri-ciri dari vaksin palsu adalah dijual lebih murah, dijual oleh perorangan, warna jernih atau keruh namun tidak gelap dan tidak memiliki faktur resmi.

 

Vaksin yang diperoleh dari Puskesmas dijamin asli karena didistribusikan dari Kemenkes. Setiap dokter anak, Rumah Sakit, Dokter praktik, klinik bisa mengambil di Puskesmas tapi tentu dengan syarat,” terangnya.

 

Matdani pula menerangkan tidak ada efek yang ditimbulkan bagi pengguna vaksin palsu. Menurutnya vaksin palsu tidak memiliki pengaruh bagi anak untuk membentuk antibodi anak itu sendiri.

 

“Bisa saja vaksin palsu itu adalah infus atau cairan lainnya, yang pasti tidak berbahaya karena murah. Dinkes juga rutin melakukan monitoring ke Puskesmas dua kali dalam setahun,” tukasnya.(korankito.con/ria)