Bisa Dipercaya

Inflasi Sumsel Lebih Tinggi Dari Nasional

Screenshot_2016-06-28-19-07-14_1467116498621Palembang-Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Sumatera Selatan kembali melakukan rapat koordinasi (rakor) untuk membahas capaian pengendalian harga dan penanggulangan inflasi, Selasa (28/6) di Hotel Arista Palembang.

Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang juga Sekertaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan Mukti Sulaiman, mengatakan, rapat koordinasi ini untuk menekan inflasi di bulan Ramadhan.

“Kabupaten/kota seharusnya yang mengendalikan harga, karena riilnya ada di kabupaten/kota misal harga cabai dan sebagainya,” katanya.

Berita Sejenis
1 daripada 3.105

Keterjangkauan harga sangat penting untuk kestabilan harga. Untuk beras saja hanya beberapa orang yang mengendalikan, sehingga bisa mengendalikan harga untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya .

Lebih lanjut, Mukti menyampaikan untuk mengatasi monopoli pasar yang paling pas adalah dengan koperasi.

“Di tingkat petani harga hanya separuh dari harga pasar, jadi yang banyak memperoleh keuntungan adalah pedagang. Mata rantai cukong harus diputus oleh pemerintah dan konsumen itu sendiri,” katanya.

Ditambahkannya, inflasi dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan, inflasi juga dipengaruhi oleh infrastuktur yang baik. Selain itu juga belum ada pemetaan terhadap komoditas pertanian itu sendiri.

“Semestinya kabupaten/kota mengurus hal-hal kecil di daerahnya sehingga provinsi bisa mengurus hal yang besar seperti yang dilakukan pak gubernur. Untuk daerah lakukan identifikasi inflasi sesuai karakteristik daerah masing masing, setelah itu susunroadmap kegiatan,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil TPID Sumsel Hamid Ponco Wibowo menjelaskan, inflasi Sumsel sampai bulan Mei 2016 mencapai 4,31 % lebih tinggi dari bulan April 2016 sebesar 4,24%.

“Inflasi Sumsel lebih tinggi 0,63 % dari Inflasi nasional yang 0,42%. Inflasi Sumsel naik dibanding bulan yang sama tahun lalu. Kenapa lebih tinggi karena adanya even internasional sehingga harga ayam ras naik, selain itu gula dan rokok,” paparnya.

Dijelaskan Hamid Ponco, acuan inflasi Sumsel adalah Kota Palembang, tetapi bukan berarti daerah-daerah tidak menyumbang inflasi.

Sebagai contoh, harga sayur meningkat di Palembang dikarenakan transportasi dan jalan dari pemasok di Pagaralam mengalami gangguan.

“Sebagai pembanding inflasi di 23 kota se-Sumatera, Sumsel diwakili oleh Palembang dan Lubuk Linggau. Palembang berada di posisi 4 tertinggi inflasi di Sumatera sedangkan Lubuk Linggau pada posisi 15. Menjadi pekerjaan rumah untuk Kota Palembang agar inflasi sama atau mendekati seperti Lubuk Linggau,” ujarnya.

Menurut Hamid Ponco, inflasi 3 tahun terakhir pada bulan Ramadhan, disumbang oleh cabai merah, angkutan udara, daging ayam ras, daging sapi, telur ayam ras, beras, dan tomat sayur.korankito.com/ria