Pertamina Akan Berikan Sanksi Tegas

Jpeg

Palembang – Menyikapi adanya penangkapan 1200 ton minyak mentah yang dilakukan oleh Satuan Unit Polair Polda Sumsel, Kamis (23/6). Pertamina Sumsel selaku pemilik minyak tersebut akan menindak tegas, jika nanti karyawannya terlibat dalam pencurian minyak mentah di perairan Tanjung Kapeh, Kabupaten Banyuasin.

Kepala Humas Pertamina regional Sumsel Makasyim mengatakan, jika dirinya meminta kepolisian untuk segera melakukan penyelidikan terhadap pencurian minyak tersebut. Jika nantinya, ada keterlibatan orang dalam, pihaknya akan menyiapkan sanksi tegas. “Kalau memang kedapatan ada orang dalam yang terlibat pencurian 1200 ton minyak mentah itu, kita tidak akan segan-segan memberikan sanksi berupa pemecatan terhadapnya, tidak akan ada kata toleransi lagi,” ucapnya saat ditemui di ruangannya.

Ia pun sangat menyangkan terjadi pencurian minyak tersebut, untung saja aksi pencurian minyak mentah itu, dapat diketahui, sehingga minyak yang ada tidak hilang kemana-mana.  “Selama ini aman-aman saja, misalnya kita meminta pasokan minyak 10 ton, sampai di Palembang tetap 10 ton tidak berkurang. Untung saja tertangkap basah, sehingga minyaknya masih ada, kalau sudah proses hukumnya akan dikembalikan lagi ke Pertamina,” ujar Mahasim.

Kendati demikian, dengan adanya kejadian ini, pihaknya akan memperkuat sistem keamanan, agar kejadian seperti ini tidaklah terulang kembali. “Kami akan mewaspadainya, dimana titik yang lemah akan segera dievaluasi, kita juga akan berkordinasi dengan fungsional-fungsional terkait,” tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Satuan Unit dari Polair Polda Sumsel, berhasil mengamankan dua kapal bermuatan 1200 ton yang diduga membawa minyak mentah ilegal keperairan Sumsel tepatnya di Tanjung Kapeh Kabupaten Banyuasin, Kamis lalu (23/6).

Dari informasi yang dihimpun, dua kapal yang terdiri dari satu kapal MT AA asal Indonesia dan satu Kapal MT M2 yang berasal dari salah satu negara bagian Amerika Utara yakni Saint Keith and Nevis. Dengan total dua puluh tujuh ABK dan terdapat dua WNA asal Myanmar.

Dir Polairud Polda Sumsel, Kombes Pol Robinson Siregar membenarkan tentang penangkapan tersebut. Dirinya menjelaskan jika penangkapan berawal saat pihaknya mendapatkan informasi jika ada dua buah kapal besar asing yang masuk wilayah perairan Sumsel. Dari informasi tersebut, pihaknya pun langsung melakukan penghadangan.

Saat penangkapan berlangsung kedua kapal tidak memiliki surat izin melintas. Hingga akhirnya kedua kapal tersebut diamankan. Namun karena bermuatan kapal yang sangat bantak hingga membutuhkan waktu dua hari untuk bisa sampai ke Mapolair Polda Sumsel, Sabtu (25/6). “Kita lakukan pengamanan terhadap dua kapal asal indonesia dan amerika utara tersebut karena tidak memiliki izin dan surat lengkap. Namun, untuk membawa kapal tersebut memakan waktu lama hingga sampainya baru kemarin,” ungkap Robinson, Minggu (26/6).

Robinson menambahkan, untuk saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap nahkoda kapal berinisial E untuk menanyakan perihal dua kapal yang diduga berasal dari Bangka Belitung tersebut.

“Kita amankan nahkoda dan ABK nya. Saat ini masih kita dalami terlebih dahulu. Dan saat inu kita juga sudah berkoordinasi dengan pihak pertamina perihal adanya minyak mentah tersebut” tutup Robinson. (korankito.com/denny)