Alex Noerdin Lounching Kawasan Tertib Ukur

IMG_7991

Palembang – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), H Alex Noerdin melaunching Kawasan Tertib Ukur di Pasar Cinde Jl. Jenderal Sudirman Palembang. Senin (27/6). Untuk kawasan tertib ukur bukan hanya di pasar cinde saja tapi ada seluruh pasar di Sumsel yang ada timbangan.

Alex mengatakan untuk kawsan tertib ukur, ada dua hal yang perlu dilakukan. pertama, walaupun sudah punya timbangan, timbangan itu harus ditera sesuai dengan waktu teranya supaya tetap akurat,  yang kedua, kita harus jujur kepada sesama sekaligus mematuhi perintah Allah, Allah yang memerintahkan tegakan timbangan yang benar.

“Perilaku mengurangi takaran itu dosa besar. Pedagang harus sadari itu dan jangan sampai merugikan konsumen,”jelasnya.

Kalau Sumsel menegakan timbangan dengan benar, masyarakat dengan sendirinya akan berlaku jujur juga, insyallah investasi yang masuk ke Sumsel akan bertambah, orang percaya bahwa Provinsi Sumsel mengundang para investornya dan memperlakukanya secara jujur. ,” ujarnya saat diwawancarai sesudah melakukan peninjauan pasar cinde

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumsel, Ir. Permana MM mengatakan, program tersebut bertujuan untuk mengevaluasi alat ukur takar timbangan dan perlengkapan pedagang pasar agar standar antara yang diberikan oleh penjual dengan yang dibeli. Oleh karena itu salah satu cara mencegah perilaku culas pedagang, maka diwajibkan menggunakan alat ukur atau timbangan besi berkapasitas 10 hingga 20 kilogram.

Jika sudah berlabel tertib ukur nantinya akan sangat membantu konsumen yang berbelanja di pasar tradisional tersebut. Pedagang juga akan merasa aman karena alat ukurnya teruji. Dalam hal ini, Pemprov Sumsel akan terus mendorong dan mengingatkan pedagang agar melayani pembeli dengan jujur dan dibuktikan dengan ukuran timbangan yang sesuai. Katanya

“Tujuan ini mensosialisasikan kepada seluruh pemangku kepentingan baik pedagang maupun pelaku usaha maupun aparat yang bekerja menggunakan  timbangan,  sehingga menjadi Sumsel sebagai daerah nomor satu tertib ukur di seluruh indonesia,” ungkap Permana.

Serta diminta kepada para pedagang untuk tidak menggunakan Ukuran Takaran Timbangan dan Perlengkapannya (UTTP) yang tidak standar atau timbangan plastik dan setiap tahun agar alat UTTP-nya di perbarui .

Dan bukan hanya pedagang di pasar tradisonal saja, ini akan diterapkan di semua pengguna timbangan, seperti timbangan lalu lintas milik Dinas perhubungan, tangki cpo pertamina, tangki ukur mobil  untuk  menjadikan tertib ukur, timbangan pasar swalayan (mall) dan lain-lain.

“Dalam rangka ini sejalan ajaran semua agama, mereka setuju jangan mengurangi takaran, hampir semua agama mengajarkan sama jangan mengurangi timbangan,” ujar Permana.

dijelaskan, Sejak tahun 2013 dampai 2015 Provinsi Sumsel telah menetapkan kurang lebih 18 pasar tradisional, yakni di kota Palembang, Lubuk linggau, Musi Banyuasin, Oku Selatan, Pali, Empat lawang, Musi rawas telah dicanangkan menjadi pasar tertib ukur, dan dilanjutkan Kabupaten-kabupaten lainnya.

Sumsel sebagai provinsi yang proaktif menyuarakan  hal ini untuk menyelenggarakan  event dunia menjadi corong keindonesiaan, Ibukota Sumsel yakni Palembang pernah mendapatkan penghargaan nasional Pasar Tertib Ukur tahun 2013, yaitu di Pasar Sekip Ujung dan Plaju.

“Berbicara penghargaan pasar tertib ini  harus dipantau terus, karena pedagang terus bergonta-ganti berjualan, nah ini  harus dipantau terus agar berkesinambungan,” harap Permana.(korankito.com/ria)