Masih Ada Makanan Kadaluarsa

IMG_0573
Lahat – Turunnya tim gabungan terdiri dari Badan Ketahanan Pangan (BKP), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diperindag), Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH), Badan Perijinan Pelayanan Terpadu dan Penanaman Modal Daerah (BPPT dan PMD), Polres Lahat, Yayasan Konsumen Lembaga Indonesia (YLKI) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) melakukan penyisiran sekaligus inspeksi mendadak (sidak) disejumlah pertokoan sembako maupun minimarket serta supermarket.

Hasil pantuan di Pasar Lematang dibeberapa toko sembako, serta minimarket dan supermarket di Kota Lahat ditemukan roti tanpa tanggal expired (kadaluarsa, red) masih beredar dan disinyalir buatan home industry (industri rumah tangga, red) maupun kemasan makanan minuman (mamin). Dimana, pihaknya mengambil sampel sebagai barang bukti (BB).

Bupati Lahat, H Saifudin Aswari Rivai SE melalui Kadisperindag, Fikriansyah SE Msi menuturkan, sangat disayangkan dengan ditemukan makanan roti tanpa adanya informasi mengenai tanggal kadaluarsa didalam kemasannya, sehingga hal tersebut merugikan konsumen.

“Ini begitu merugikan sekali bagi masyarakat yang tidak mengetahuinya, oleh sebab itu, kepada pedagang agar mengarahkan sekaligus menyampaikannya,” katanya, ditemui, usai sidak, Kamis (23/6).

Tim terpadu menyarankan agar sekiranya menarik dan mengembalikan kepada produsen atau pembuat rotinya  nantinya akan dipanggil untuk meminta konfirmasi, dimana, dalam kemasan tersebut hanya tertera Nomor PIRT saja.

“Alangkah baiknya produk makanan tersebut tidak diterima lalu dijual, sebab, hanya bertahan maksimal lima hari, nah, di pedagang lebih dari itu, saat ini, kami (tim terpadu, red) terus bersosialisasi dan memberitahukan kepada pemilik agar mencantumkan komposisi maupun tanggal kadaluarsa,” tandas Fikriansyah.

Senada, Ketua YLKI Kabupaten Lahat-Empat Lawang-Pagaralam, Sanderson Syafei ST mengemukakan,  disayangkan dengan ditemukan produk roti tanpa adanya informasi sedikitpun tertera dikemasan makannya dimaksud.

“Oleh karena itu, kepada pedagang juga untuk tidak menerima apalagi menjualnya, karena hal tersebut merugikan konsumen ketika mengkonsumsinya, entah bagaimana kondisi sebenarnya,” jelasnya. (korankito.com/rika)