Ketua PAN Palembang Diduga Gunakan 5 Jenis Narkoba

 

TEMPAT PESTA-Rumah yang menjadi lokasi tempat pesta narkoba Ketua PAN Palembang beserta 5 temannya.

TEMPAT PESTA-Rumah yang menjadi lokasi tempat pesta narkoba Ketua PAN Palembang beserta 5 temannya.

 

Palembang-Polisi menyatakan test urine Ketua DPD PAN Palembang Yudi F Bram positif narkoba. Yudi pun terancam dipecat dari keanggotaan Partai Amanat Nasional.

Kasus tertangkapnya Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Palembang Yudi Farola Bram bersama sejumlah rekannya oleh Ditres Narkoba Polda Sumsel, terus bergulir. Yudi yang tertangkap sedang melakukan pesta narkoba di perumahan Villa Sosial, KM 5, Kecamatan Kemuning, Palembang, terus menjalani pemeriksaan secara intensif di Mapolda Sumsel, Selasa (21/6).

Direktur Ditres Narkoba Polda Sumsel Kombes Pol Irawan David Syah, mengatakan, enam dari sembilan pelaku masih diamankan pihaknya di Mapolda Sumsel karena dinyatakan positif menggunakan narkoba.

Salah satunya adalah Kader DPD PAN Kota Palembang Yudi F Bram (YFB). Adapun Keenam pelaku yang dinyatakan positif yakni Yudi F Bram, JI, oknum anggota Polri, ZLK anggota PNS Muba, ANP, dan dua orang wanita yakni RRN, dan DA.

 

“Memang benar, penangkapan para pelaku berawal dari laporan masyarakat sekitar yang menyebutkan di kediaman pelaku sering terdengar keributan di hari-hari tertentu. Kami kemudian melakukan pengembangan dan saat digeledah para pelaku kedapatan tengah mengonsumsi narkoba dan dalam keadaan teler. Tapi barang bukti sudah tidak ditemukan lagi hanya ada satu butir pil ekstasi,” ungkap David.

 

Mengenai proses hukum yang akan dilakukan pihaknya, David mengatakan, saat ini Yudi masih dinyatakan sebagai terperiksa. Para anggota sedang melakukan pengembangan, apakah ada keterkaitan pelaku dengan peredaran narkoba tersebut atau hanya pengguna.

 

“Dari hasil test urine yang dilakukan dokter, para pelaku positif menggunakan kandungan yang ada di dalam shabu. Untuk langkah selanjutnya jika para pelaku hanya pengguna, kemungkinan bisa direhabilitasi dan berkoordinasi dengan BNN. Namun, jika terbukti terlibat, terpaksa para pelaku akan kena proses pidana,” ujar David.

 

Selain itu, dikatakan Irawan, pihaknya juga telah kembali mendatangi lokasi penggrebekan yang diketahui merupakan rumah milik YFB. “Kita lakukan olah TKP termasuk juga memasang garis polisi serta mengamankan barang bukti berupa loudspeaker dan juga laptop yang digunakan untuk alatnya dalam pesta narkoba tersebut,” terangnya.

 

Bahkan, dikatakan Irawan, pihaknya juga turut mengamankan seragam anggota polis berpangkat  Komisaris Polisi (Kompol). “Iya satu orang memang merupakan anggota polisi berpangkat Kompol dengan inisial JI. Saat ini, semuanya sudah kita amankan,” ungkapnya.

 

Hasil pengembangan penyelidikan, kata Irawan,   ternyata YFB tak hanya diduga sebagai pengguna narkoba. Namun, diapun adalah penyedia barang haram tersebut. “Yang sediakan barang Yudi,” kata Irawan David Syah.

 

Irawan menambahkan, meski sampai sekarang Yudi dan temannya membantah menggunakan narkoba, namun dari hasil pemeriksaan urine mereka dinyatakan positif menggunakan narkoba.

 

“Enam orang positif narkoba bahkan YFB itu dugaannya memakai lima jenis narkoba berdasarkan hasil tes urine tersebut,” ujarnya.

 

 

 

Terancam Dipecat

 

Terkait penangkapan YFB, anggota MPP DPW PAN Sumsel H Joncik Muhammad Ssi, SH, MM, merekomendasikan agar Ketua DPD PAN Kota Palembang Yudi F Bram dipecat lantaran dinilai telah melakukan perbuatan tercela.

“Pasti karena itu perbuatan tercela, dipecat. Tapi itu nanti dari kewenangan DPP. Pasti akan diberhentikan. Secepatnya. Kita sangat kecewa,” tegas Joncik usai rapat paripurna tentang jawaban gubernur terhadap LKPJ Tahun Anggaran 2015.

Joncik yang juga Ketua Fraksi PAN DPRD Sumsel menyebut YFB ini bukan lahir dari kader bawah PAN. “Dia ini kader PAN tapi bukan lahir dari bawah, bukan inisiator. Pindahan dari partai lain. Tadinya bendahara Hanura,” kata Joncik.

Joncik yang juga Ketua Komisi II DPRD Sumsel berharap atas tertangkapnya oknum kader PAN ini menjadikan bahan evaluasi bagi kader lainnya. “Narkoba sesuatu yang dikutuk. Kita berharap tidak terulang. Kita minta agar BNN melakukan tes. Ini bahan evaluasi. Tonggak untuk membersihkan dari narkoba. Melibatkan BNN untuk melakukan tes urine, darah, rambut. Tolong laporkan kalau ada kader kita terlibat narkoba,” tegas Joncik yang juga Ketua KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia) Sumsel.

Sedangkan Ketua POK DPD PAN Provinsi Mardiyansyah yang ditemui saat  menjenguk Yudi F Bram di Mapolda Sumsel, mengatakan, kedatangan ia ke Mapolda Sumsel untuk bersilahturahmi sekaligus membesuk rekan separtainya Yudi F Bram. Kedatangannya juga untuk mengklarifikasi tentang kejadian tersebut dengan Dir Ditres Narkoba Polda Sumsel Kombes Pol Irawan David Syah. “Saya hanya silahturahmi dan mengklarifikasi perihal berita yang menimpa Yudi. Tadi sudah berbicara dengan Pak Dir, ” ungkap Mardiansyah, Selasa (21/6).

Ketika ditanya tanggapannya tentang kasus yang menimpa kader PAN ini, Mardiyansyah menyayangkan peristiwa yang menimpa salah satu anggota partainya tersebut. Apa lagi kejadian tersebut terjadi di bulan Ramadhan yang seharusnya dimanfaatkan secara baik oleh para anggota partainya. “Sangat kita sayangkan ya, apalagi ini bulan puasa dan Yudi saat itu memang berada di TKP saat penangkapan,” ujarnya.

Mengenai tindakan apa yang akan dilakukan partainya, Mardiansyah menjelaskan, pihaknya saat ini sudah melakukan rapat dengan para pengurus dan anggota PAN. Pengurus dan anggota diminta untuk terus mengerjakan tugas-tugas yang ada di DPD PAN kota Palembang sampai dikeluarkannya surat keputusan (SK) pemberhentian tetap terhadap Yudi F Bram. “Kita sudah lakukan rapat ya, sebab semua program harus tetap berjalan,” singkatnya.

Tertangkapnya Yudi F Bram menambah deretan pejabat publik dan politikus yang tertangkap karena penyalahgunaan narkoba. Sri Sulastri selaku kriminolog mengatakan, kasus itu merupakan perilaku yang tidak baik, karena obat-obatan terlarang itu akan merusak si pemakai.

“Dalam kasus tersebut, kita lihat apakah mereka sebagai pengedar atau pemakai, berapa banyak yang mereka konsumsi baru bisa kita lihat hukumannya,” katanya.

Perilaku memakai obat-obatan terlarang itu, menurut Sri, tidak hanya menyerang politisi saja. Ia tidak memandang apakah ia panutan atau bukan, tapi tergantung si pemakai. Namun, biasanya orang yang memakai tersebut karena terkendala masalah adaptasi. Ia tidak bisa beradaptasi secara normal dengan masyarakat umum.

“Dengan memakai narkoba tersebut, mereka jadi percaya diri sekali. Mereka berfikir bahwa setelah memakai itu, mereka menjadi percaya diri dan pintar. Padahal mereka jadi tambah oon (bodoh-red). Itukan merusak otak. Sebaiknya mereka mengurangi hal tersebut. Jangan sampai salah pergaulan, agar tak terjerumus ke dalam jurang obat-obatan tersebut,” ujarnya.kardo/resha