Bisa Dipercaya

500 Ribu Hektar Lahan Sumsel Kritis

IMG-20160622-WA0001Palembang-Sedikitnya 500 ribu hektar lahan kritis di Sumsel secara bertahap mengalami kekeringan. Hal ini dikarenakan penurunan degradasi lahan di Sumsel belum seimbang dengan rehabilitasi hutan dan lahan. Dan, laju kerusakan lebih tinggi daripada rehabilitasi.

Ketua Umum Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Sumsel, Dr Syafrul Yunardy SHut ME mengatakan, pihaknya terus melakukan penurunan angka lahan kritis. Tapi upaya yang dilakukannya belum seimbang.

“Laju  lahan kritis lebih tinggi dari rehabilitasi,” katanya, di sela-sela acara Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia atau World Day to Combat Desertification (WDCD) bekerja sama  dengan Balai Pengelolaan DAS Musi di Hotel Grandzuri, Selasa (21/6).

Berita Sejenis

Dua Minggu, 71 Bandit 3C Diciduk Polisi

Tim Satgas Temukan Makanan Berformalin

Ungkap 3C, Lima Personel Polres Lubuklinggau Dapat…

1 daripada 3.092

Menurutnya, berdasarkan data yang ada tahun 2014 luas hutan di Sumsel lebih kurang 3.466.900 ha atau 40 persen dari luas wilayah Sumsel. Dari  luas kawasan hutan tersebut diperkirakan area yang masih berhutan lebih kurang 44 persen.

Adapun rencana wilayah yang akan dilakukan rehabilitasi tetap fokus di wilayah yang mendominasi kebakaran hutan.

Prioritas pada sub DAS yang ada di bagian hulu Sungai Musi. Jadi lahan-lahan kritis yang ada di Empat Lawang, Lahat, Mura, dan Muratara.

WDCD diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran berkaitan dengan kerjasama internasional untuk memerangi penggurunan dan dampak kekeringan. Sasarannya tahun anak muda, mahasiswa, dan organisasi yang peduli terhadap lingkungan.

Sementara itu, Kabid Rehabilitasi Hutan dan Lahan Dinas Kehutanan Sumsel, Sutomo SHut MS, menjelaskan, dengan cara ini dapat mengimbangi degradasi yang terjadi. Misalnya konservasi tanah dan air, makanan yang dimakan, upaya peningkatan kesadaran bahaya degradasi lahan. ” Negara sudah meningkatkan kesadaran tapi belum dirasakan secara luas,”bebernya.

Dalam satu menit ada 16 orang yang meninggal dan dalam 10 menit ada 160 orang meninggal, 120 di antaranya anak-anak akibat degradasi lahan karena kelaparan.korankito.com/ria