PLTSa Sukawinatan Segera Dioperasikan

IMG_20160620_101959_HDR

Palembang – Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Sukawinatan, dipastikan akan segera dioperasikan oleh PT Sarana Pembangunan Palembang Djaya(SP2J) setelah pihak PLN melengkapi dokumen administrasi.

Trois Dilisusendi, Kasi Analisa dan Evaluasi Program Bioenergi Dirjen MPTKI mengungkapkan PLTSa Sukawinatan ini dibangun pada 2014 dan dikomisioning tahun 2016. Ini merupakan kewajiban Walikota Palembang untuk menunjuk BUMD pengolahan PLTSa Sukawinatan sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) ESDM nomor 10 tahun 2012. Walikota Palembang sendiri telah mengusulkan untuk segera mengoperasikan dan memelihara PLTSa. “Prosedurnya walikota harus menetapkan BUMD selaku pengelola PLTSa saat ini,” tuturnya.

BUMD yang ditunjuk untuk pengelolaan PLTSa Sukawinatan adalah PT. SP2J. Terkati hal ini Trois menjelaskan jika PT. SP2J harus segera melengkapi administrasi sesuai dengan Permen ESDM nomor 44 tahun 2015 terkait pembelian fitinventarif PLTSa.

“PT. SP2J akan melakukan perjanjian jual beli listrik (PJBL) dengan pihak PLN. Dari hasil rapat sudah disepakati bahwa PT. SP2J akan melengkapi apa saja yang kurang dari komponen pembangunannya dan PT. SP2J sudah menyatakan siap untuk memelihara dan mengelolanya,” jelas Trois.

Kembali kata Trois, PLTSa yang sudah ditetapkan pemerintah hingga saat ini baru 1 PLTSa di Surabaya. Kami berharap akan berkembang sesuai dengan Perpres 18 nomor 2016 dengan 7 kota sasaran pembangunanya. Sukawinatan adalah projek pertama pembangunan PLTSa yang mengunakan teknologi pengolahan sanitari renvile (methan capture). Ia mengaku jika memang dengan cara ini belum terjadi pengurangan sampah di kota Palembang secara signifikan.

Senada, Direktur Operasional PT SP2J Anthoni Rais, mengatakan, meski telah diserah terimakan oleh Kementerian ESDM melalui Pemerintah Kota palembang 25 Mei 2016 lalu dalam pengelolaan PLTSa sukawinatan bukan berarti PLTSa tersebut langsung bisa beroperasi dan membagikan energi listrik yang dihasilkannya kepada masyarakat kota Palembang. Pasalnya masih ada beberapa item yang harus ditambah, seperti  Blackstart untuk menghidupkan cubical meeting dan study interkoneksi.

“Kami menerima PLTSA ini memang belum lengkap. Ada beberapa point yang harus dilengkapi seperti black stat, SLO, study interkoneksi, beberapa pengadaan yang harus dianggarkan semuanya ada 6 point dan bisa memakan anggaran sebesar Rp400 juta,”beber Anthoni Usai Rapat Bersama kementerian ESDM dan pihak terkait lainnya, Senin(20/06) di hotel Novotel Palembang.

Untuk Administrasi kerja sama dengan pihak PLN, ia mengakui pihaknya meminta satu bulan untuk mempersiapkan berkas administrasi. “Kami juga akan melakukan diskusi bersama PLN dalam penerepan jual beli daya,”sebutnya.

Imbuhnya, PLTSa dapat menambah daya ke PLN sebesar 500kw dialirkan dari PLTSa ke gardu induk PLN. Kemudian PLN yang akan mengalirkan listrik ke masyarakat, mengingat pembangunan di kota Palembang semakin banyak mendekati Asian Games 2018 nanti. Tentunya ini akan sangat membantu penggunaan energi tambahan untuk membangun kota Palembang. Untuk kisaran harga jual beli ke pihak PLN masih belum bisa dipastikan. “Belum ada nilainya berapa kita jual ke PLN, setelah lebaran akan kita tertibkan administrasinya dengan masa deadline selama 1 bulan dari sekarang,” tegasnya.

Sementara itu, Agung Nugroho Kepala Dinas Kebersihan Kota (DKK) menuturkan jika pihaknya siap untuk menyiapkan bahan baku sampah untuk diolah menjadi energi listrik. Produksi sampah di kota Palembang sendiri lebih dari 500ton sehari.

“Tugas DKK hanya mensuplai sampah untuk pengelolaan PLTSa kepada PT. SP2J. Kita siap karena sampah di kota palembang paling siap. Suplai minimal 500ton/hari sedangkan sampah di Palembang lebih dari cukup,” pungkasnya. (korankito.com/eja)