Dana Bagi Hasil Migas Sumsel Hanya Rp 362 Miliar

 

IMG-20160619-WA0000

Palembang – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel mengklaim dana bagi hasil Sumsel di tahun 2016 ini mengalami penurunan. Hal ini di sebabkan anjloknya harga minyak bumi di pasar Internasional.

“Pendapatan daerah dari dana bagi hasil migas tahun 2016 merosot tajam dibandingkan tahun lalu,”kata Robert Heri Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Sumsel, Sabtu (18/6).

Menurutnya pada tahun ini Sumsel hanya mengantongi Rp. 362 miliar sementara pendapatan pada 2015 yang lalu menyentuh angka Rp. 1,1 triliun. “Belum lagi penyaluran dana bagi hasil migas yang mengalami keterlambatan,” jelasnya.

Robert Heri mengakui, Sumsel sebagai daerah penghasil migas namun belum juga bisa sejahtera. Demikian pula dampak lingkungan penambangan yang harus di tanggung pemerintah daerah.

Untuk pendapatan dari sektor migas tambahnya Sumsel menginginkan peningkatan dana bagi hasil yang lebih tinggi lagi dari peraturan saat ini untuk daerah penghasil minyak dan gas.

“Saat ini dana bagi hasil minyak dan gas hanya diterima pemerintah daerah penghasil 15,5 dari jumlah tersebut. Selain itu juga menanggung biaya pengeboran yang seharusnya hanya di bebankan pada perusahaan. Karena persentase rendah tersebut maka pendapatan yang diterima daerah rendah. Akibatnya migas bisa dikatakan tidak berkontribusi besar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD),” ujarnya.

Selama ini pendapatan asli darah sumsel berasal dari migas. Sebenarnya terhadap ketimpangan bagi hasil tersebut pernah di ajukan gugatan ke mahkamah konstitusi, namun hasilnya belum juga memuaskan sesuai dengan keinginan pemerintah provinsi Sumsel.

Ideal nya menurut Robert sebagai daerah produksi dan kekayaan alam yang di ekspoitasi seharusnya mendapatkan 40 persen dari dana bagi hasil. Dengan pembagian sebesar itu, Sumsel bisa mendapatkan hingga 3 triliun. (korankito.com/ria)