Petisi Penolakan BOT Pasar Cinde

747972_06072822032016_Pasar_Cinde

Palembang – Salah satu pasar tradisional yang cukup tua yaitu Pasar Cinde yang berlokasi ditengah pusat Kota Palembang rencananya akan direvitalisasi menjadi pasar modern, dengan investor yakni PT Magna Beatum, bagian dari Aldiron Group. Investasi yang direncanakan sekitar Rp225 miliar dimana untuk pembangunannya berdasarkan master plan, akan dibangun seringgi 12 lantai dan menyulap pasar yang biasanya dikenal kumuh dan becek menjadi pasar yang lebih tertata.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Sumateea Selatan, Zubair Angkasa mengatakan, pihaknya memberikan petisi kepada Gubernur Sumatera Selatan dan Walikota Palembang karena adanya rencana membongkar Pasar Cinde yang kaya akan nilai history. Meski belum ada pengesahan sebagai Cagar Budaya untuk pasar tersebut, namun Pasar Cinde sudah mencukupi untuk syarat menjadi Cagar Budaya.

“Pasar Cinde ini sudah menginjak usia 58 tahun, mengingat desain pasar oleh didesain oleh arsitek terkenal, Thomas Karsten. Sementara dalam UU No 11 tahun 2010, tentang kriteria Cagar Budaya itu yakni berusia minimal 50 tahun dan memiliki gaya pada masanya. Gaya pada pasar ini terlihat pada bentuk kontruksi cendawan,” ungkapnya.

Petisi yang dilayangkan itu sendiri berasal dari berbagai pihak yang mempunyai anggapan yang sama dengan Zubair, diantaranya Palembang Heritage, Ikatan Arkeologi Indonesia, Komunitas Pecinta Sejarah, Asosiasi Antropologi Indonesia, Pusat Informasi Advokasi Pedagang Pasar Cinde, dan Walhi Sumsel.

“Kami disini bukan untuk membahas desain Pasar Cinde nantinya waktu dibangun, tapi kami ingin agar BOT pembangunan Pasar Cinde ini dibatalkan,” tegasnya.

Menurutnya, Pasar Cinde adalah roh pembangunan untuk Palembang, selain dari Jembatan Ampera. Kepada koran kito ia mengungkapkan, sudah cukup banyak situs sejarah yang dihilangkan dan lenyap di Palembang karena tertutup dengan kemajuan zaman.

“Kami minta agar Pasar Cinde tidak dirubah apalagi dibongkar. Pasar Cinde itu identitas Kota Palembang, ini adalah landskap Kota Palembang. Petisi ini akan kita kirim hingga ke Presiden RI Joko Widodo jika tidak digubris oleh pihak terkait,” kata dia.

Senada, Arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang Retno Purwati menuturkan beberapa waktu lalu pihaknya menerima informasi bahwa Menteri Perdagangan RI telah mengirim surat ke Gubernur Sumsel untuk meninjau kembali rencana BOT Pasar Cinde. Dengan begitu, pihaknya merasa mendapat dukungan dari pemerintah pusat.

“Semua pihak, baik aktivis, masyarakat dan semuanya harus bersatu untuk selamatkan Pasar Cinde. Ini adalah icon Kota Palembang. Ini harus dijaga dan dilestarikan, bukan malah dirobohkan,” harapnya kepada seluruh golongan masyarakat.

Sementara itu, Sekertaris Daerah Provinsi Sumatra Selatan Mukti Sulaiman membenarkan sekitar satu minggu lalu ada surat dari Menteri Perdagangan RI untuk meninjau kembali built operate transfer (BOT) pembangunan Pasar Tradisional Cinde Palembang. Surat itu sebagai bentuk ketidaksetujuan Menteri Perdagangan RI terhadap rencana pembongkaran Pasar Cinde Palembang dimana pasar tersebut memiliki nilai sejarah. “Kita memang terima surat itu. Sekarang sedang kita koordinasikan dengan semua pihak terkait,” beber Mukti.

Surat tersebut diterima oleh Gubernur Sumatera Selatan sebelum berangkat ke Norwegia. Diketahui saat ini, Gubernur Sumatera Selatan masih dalam tugas di Norwegia. Mukti mengatakankan, dengan adanya surat itu tidak berarti BOT Pasar Cinde itu dibatalkan. Pihaknya akan terus berupaya untuk koordinasi dengan Aldiron Group sebagai investor pembangunan Pasar Cinde itu.

“Akan tetap dibangun, tapi sejauh ini masih dalam upaya koordinasi. Yang jelas, memang kita saat ini tengah menyiapkan rencana. Ada beberapa bagian dari bangunan itu yang memiliki nilai sejarah dan akan tetap dipertahankan. Tetap akan kita bangun Pasar Cinde itu,” pungkasnya. (korankito.com/ejak)