Bisa Dipercaya

Kesal, Adik Kena Cincang

Jpeg

Palembang – Polisi terus mengusut kasus bentrok warga di kawasan Jalan Kadir TKR, Lorong Terusan, Kelurahan 36 Ilir, Kecamatan Gandus, Palembang. Lima orang yang diduga terlibat dalam aksi saling serang tersebut, diamankan di Polresta Palembang, Minggu (12/6) dini hari.

Kelima orang yang diamankan tersebut adalah Junaedi (42), warga Jalan Kadir TKR, Lorong Penghulu, Joni (40), Ombang (31), dan Ujang (48), ketiganya warga Jalan Kadir TKR, Lorong Penghulu, Kecamatan Gandus, Palembang. Serta, satu lagi warga yang diamankan yakni Yudi.

Berita Sejenis
1 daripada 3

Junaedi mengakui dirinya ikut dalam aksi bentrok itu. Namun ia tidak mengetahui secara pasti awal kejadiannya. Hanya, saja ia nekat ikut dalam bentrokan karena tak terima melihat adiknya bernama Jailani terkapar bersimbah darah karena ribut Iswandi.

“Siapa yang tidak kesal kalau melihat adik kandung terkapar dengan tangan yang hampir putus, kena cincang. Jadi, saya ikut dalam bentrokan itu,” kata pria yang celana panjangnya masih ternoda darah, saat ditemui di ruang piket Unit Ranmor Polresta Palembang, Minggu (12/6).

Menurut Junaedi, melihat kondisi adiknya yang tangannya hampir putus, ia bersama temannya langsung mendatangi seterunya dan terlibat dalam bentrokan itu. Usai melampiaskan kemarahannya, kawanan ini langsung kabur meninggalkan lokasi kejadian.

Namun, sial yang dialami Junaedi, saat hendak kabur dirinya diamankan oleh anggota polisi. Selain terlibat bentrok, Junaedi juga kedapatan membawa senjata api rakitan. “Saya memang membawa senpi, namun belum sempat saya tembakan. Saya ditangkap saat di jalan hendak kabur dari polisi. Sementara teman-teman saya yang lainya berhasil kabur,” kata kuli bangunan ini.

Ketika ditanya mengenai senpi yang dibawanya, Junaedi mengaku senpi itu milik temannya yang dititipkan. “Senpi itu milik teman saya,” kilahnya.

Sementara itu, Joni mengatakan, ia tidak mengetahui apa-apa atas kejadian tersebut. Menurutnya, ia bersama Ombang dan Ujang diamankan saat berada di kediamannya. “Kami tidak tahu apa-apa, tapi memang saat itu kami mendengar kejadian itu. Malam itu, kami pulang kerja, kumpul di rumah saya, tiba-tiba polisi datang menangkap kami. Katanya, kalau kami tidak bersalah ikut saja, jadi kami ikut ke sini,” ujarnya.

Sedangkan Ujang menuturkan, bentrok berdarah tersebut melibatkan dua kelompok yakni warga Lorong Penghulu dan Lorong Terusan yang terjadi di kawasan Lorong Jambu. “Kalau yang terlibat bentrokan itu tahu, tapi tidak begitu kenal dengan mereka. Memang sering terjadi bentrokan di lorong kami, tapi bukan dari warga Lorong Jambu, selalu saja jadi sasarannya. Orang di Lorong Jambu itu, tidak ada yang nakal,” ungkapnya.

Dirinya berharap, setelah ditangkap, ia bersama rekan-rekannya bisa dibebaskan, untuk kembali berkumpul dengan keluarga lainya. “Tadi sudah di BAP (Berita Acara Kepolisian), kami berharap agar kami dibebaskan. Kami ini tidak tahu apa-apa,” harapnya.

Kabag Ops Polresta Palembang Andi Kumara mengatakan, usai terjadinya bentrokan, pihak kepolisian dari Polsek Gandus, anggota Sat Reskrim dan Sat Sabhara Polresta Palembang masih berjaga di lokasi kejadian, agar bentrok susulan tidak terjadi.

“Sekarang situasi sudah mulai terkendali, namun masih ada beberapa petugas yang berjaga di lokasi kejadian untuk mengamankan kondisi di lapangan,” katanya. (korankito.com/deny)