Bisa Dipercaya

Sepekan Jelang Ramadhan, Harga Telur Capai 21.500

12-40-47-telur-ayam-ras9123

Palembang – Harga kebutuhan pokok khususnya telur di kota Palembang diperkirakan akan mengalami lonjakan dari sebelum ramadhan hingga selesai hari raya idul fitri. Terang saja, belum memasuki bulan Ramadan, harga telur ayam negeri sudah merangkak naik dari Rp18.000-Rp19.000 per kilogram, pada 29 Mei kemarin harga telur ayam menjadi Rp20.500-Rp21.500 per kilogramnya.

Agen telur di Simpang Lima, Palembang, Roji’ mengatakan, harga telur mulai mengalami kenaikan pada 29 Mei lalu. “Naiknya menjadi Rp20.500 per kilogram. Memang dari agen besar sudah memberikan harga diatas Rp20.000 per kilogram. Karenanya kita jual ke konsumen dengan harga segitu, untungnya tipis,” ujarnya, Selasa (31/05).

Berita Sejenis
1 daripada 18

Ia tidak tau alasan mengapa harga telur ayam tersebut melonjak tinggi. Namun ia sudah memperkirakan nantinya semakin mendekati Ramadan dan Lebaran, akan semakin tinggi harganya. “Itu sudah jadi hal yang lumrah. Kita tidak bisa jual harga yang rendah karena memang dari agen besarnya sudah mahal. Harga pasaran juga sekarang sekitar itu. Tapi kita juga tidak bisa jual mahal, karena kasihan konsumen nantinya,” ungkapnya.

Lain halnya dengan pedagang telur ayam negeri di Pasar Kuto Palembang, Yohanes. Dikatakannya harga telur ayam di pedagang eceran dan agen memang sedikit berbeda. “Kalau di eceran, harga telur bisa capai Rp21.500 per kilogram. Tapi agen lebih rendah dari itu. Harga telur ayam akan meninggi terus sepertinya karena konsumsinya juga bakal meningkat jumlahnya jelang Ramadan dan Lebaran,” bebernya.

Ia mengaku penyebab kenaikan harga itu terus meningkat karena permintaan masyarakat juga meningkat. Menurutnya itu adalah hukum permintaan pasar. “Namanya saja mau ada momen besar (Ramadan dan Lebaran). Sebenarnya untuk ketersediaan telur, sepertinya mencukupi, karena telur-telur ini semuanya didatangkan dari Sumsel, bukan daerah lain. Tapi namanya saja permintaannya tinggi, maka harganya juga akan semakin tinggi,” jelas Yohannes.

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Selatan, Amruzi Minha mengatakan, produksi telur di Sumsel ada sebanyak 250 ton telur per harinya. Untuk konsumsi telur di Sumsel mencapai 150 ton telur, sisanya dikirim ke tiga daerah yakni DKI Jakarta, Jabar dan Babel dengan total 100 ton.

Produksi telur di Sumsel, menurutnya, berasal dari lokal yakni dari Banyuasin yang menyumbang 80 persen, dan sisanya 20 persen dari Prabumulih dan Palembang. “Untuk telur kita sangat banyak. Setiap harinya ada 20 mobil pengangkut telur dengan masing-masing membawa 5 ton telur,” ungkapnya.

Ia menghimbau kepada masyarakat Sumsel tak kuatir dengan ketersediaan stok telur ayam karena memang cukup banyak di Sumsel karena produksinya cukup besar. Menurutnya jika permintaan telur di Sumsel bisa dikendalikan oleh masyarakat itu sendiri, maka secara otomatis harga akan semakin terkendali tidak meroket.

“Memang ada kenaikan permintaan telur di masyarakat kalau jelang Ramadan dan Lebaran. Bisa sekitar 10 persen. Namun dipastikan produksi telur ayam di Sumsel cukup untuk masyarakat itu sendiri,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatra Selatan, Permana mengatakan, pihaknya telah mengecek stabilitas harga kebutuhan pokok. Menurut dia, saat ini harga memang mengalami kenaikan, tapi masih fluktuatif. “Sifatnya tidak tetap dan bakal turun nantinya dan harga saat ini masih terbilang aman,” tegasnya.

Demikian juga dengan pasokan, sehingga para pedagang tidak perlu kuatir akan terjadi kelangkaan. Untuk menjaga stabilitas harga, pihaknya telah menjamin ketersediaan pasokan. “Dengan ketersediaan stok telur yang aman maka dipastikan tidak akan terjadi kenaikan yang signifikan. Sebaliknya jika pasokan terganggu maka bisa memicu kenaikan. Kita terus berupaya menjaga pasokan ke pedagang agar terus lancar,” pungkasnya. (korankito.com/ejak)