Hindari Kesalahpahaman, ASIAFI Lakukan Sertifikasi

Jpeg

Palembang – Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora-red) Sumatera Selatan Akhmad Yusuf Wibowo mengungkapkan adanya protes dari pihak ulama tentang penampilan instruktur aerobik yang menuai protes telah diselesaikan oleh pihaknya. Ia menilai bahwa hal tersebut hanya salah paham dari masyarakat.

Diungkap oleh Yusuf kepada korankito.com, berawal dari laporan kaum ulama dan masyarakat di sekitar OPI Mall yang menyebutkan bahwa instruktur aerobik di sana berpakaian tidak pantas. Hal ini mengundang reaksi penolakan sehingga menyebabkan Yusuf untuk turun tangan mengklarifikasi berita tersebut.

“Setelah kami kirimkan tim pemantau, rupanya ada salah paham. Baju yang dipakai oleh pihak instruktur aerobik menyerupai warna kulit. Jadi terlihat seolah-olah tidak pakai baju,” ungkapnya.

Hal ini kemudian didiskusikan dengan masyarakat untuk menghindari kesalah-pahaman warga sekitar. Sehingga tidak memicu konflik yang tak perlu. “Baju senam terutama kan didesain agar tidak membatasi ruang gerak. Kalau bajunya tertutup sekali, jadi susah bergeraknya. Tapi bukan berarti baju yang didesain harus minim semuanya. Kebetulan yang kemarin itu warna skinny (menyerupai kulit,-red),” ujar Yusuf

Sehingga ia berharap kedepannya instruktur senam menjadi lebih profesional dalam menjalankan tugasnya. Sebab olahraga senam ini menurutnya amat bagus dalam menyehatkan masyarakat. “Setiap sendi bergerak jika kita mengikuti senam. Instruktur sebaiknya serius dalam meracik olahraga ini agar masyarakat bisa mengikutinya dengan senang dan gembira,” tukasnya.

Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Instruktur Aerobik dan Fitness Indonesia (ASIAFI) Sumatera Selatan Tatiek G. Zainal menegaskan bahwa ia akan melakukan sertifikasi terhadap instruktur aerobik dan senam agar keprofesionalan instruktur itu sendiri meningkat dalam mengedukasi masyarakat.

“Kita akan melakukan sertifikasi tersebut biar tidak ada lagi instruktur yang abal-abal. Itu sangat penting. Contohnya masalah pakaian, bisa kita arahkan kalau sudah ada sertifikasi itu,” ujarnya.

Dengan sertifikasi instruktur tersebut, diharapakan tidak sembarang orang bisa menjadi instruktur aerobik. Ia juga bisa mengedukasi instrukturnya agar tidak sembarangan baik dalam berpenampilan maupun gerakan. Sehingga programnya ke depan dapat berjalan dengan baik.

“Jangan hanya badan bagus berisi, lantas bisa jadi instruktur. Itu salah. Ia harus bisa mengajar bagaimana gerakan yang baik dan mempunyai pemahaman yang luas di bidang aerobik,” tukasnya. (korankito.com/resha)