28 Siswa ABK Ikuti Ujian Utama Tingkat SD

IMG_3434

Palembang – Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan juga turut meninjau langsung Ujian Utama Tingkat SD pada SDN 30 Palembang. Dimana SDN 30 Palembang ini dalam melaksanakan Ujian Utama diikuti oleh  peserta Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Saat di wawancarai media, Anies mengatakan mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Sekolah Dasar Negeri (SDN) 30 Palembang yang telah memberikan kesempatan untuk anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa sekolah dan sejajar dengan anak-anak normal lainnya. Menurut Anies anak berkebutuhan khusus bukan lah anak yang andifable melainkan anak dengam difable atau anak dengan abilities yang berbeda.

“Yakni anak dengan kebutuhan yang berbeda. Sekarang kita harus mulai menyadari dan merangkul mereka karena mereka sebenarnya bukan anak cacat yang harus dibeda-bedakan,” jelasnya.

Sementara itu kepala sekolah SDN 30 Palembang, Nur’Aini mengatakan sejak tahun 2013 sudah menerima siswa dengan berkebutuhan khusus untuk bersekolah di SDN 30. Untuk yang mengikuti Ujian Utama Tingkat SD untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tersebut sebanyak 28 siswa yang mengikuti ujian.

Nur’Aini menuturkan pada tahun 2013 siswa berkebutuhan khusus yang mengikuti ujian utama ada 12 peserta, tahun 2014 ada 10 siswa peserta, tahun 2015 ada 12 siswa peserta dan yang paling banyak ada di tahun 2016 dengan jumlah 28 siswa peserta yang mengikuti ujian utama tersebut. Siswa dengan berkebutuhan khusus yang mengikuti ujian utama ini mengalami kekurangan seperti ada yang gagu, tidak mendengar, cacat fisik dengan menggunakan kursi roda.

“Jumlah Siswa yang berkebutuhan khusus yang ada di sini sampai dengan tahun 2016 ada 150 siswa,” jelasnya.

Menurut Nur’Aini anak berkebutuhan khusus tersebut kebanyakan merupaka siswa pindahan dari Sekolah Luar Biasa (SLB). Dalam proses belajar mengajar siswa tidak ada perbedaan pada siswa dengan kebutuhan khusus tersebut, semua diperlakukan sama hal nya dengan siswa mandiri lainnya.

Selain itu, ABK di sekolahnya juga banyak dibantu oleh siswa mandiri lainnya. Jadi ABK ini tidak merasa sendiri tapi ada teman-teman mereka yang siap membantu mereka saat berada di sekolah seperti untuk ABK yang menggunakan kursi roda saat akan masuk kelas dibantu oleh temannya.

Dan untuk para orang tua juga diberi kesempatan jika ingin menunggu anak mereka saat proses belajar mengajar.  “Hanya saja memang ada yang di istimewakan dari sisi bimbingan yang lebih diperketat, namun tidak tampak dan terbaca oleh siswa-siswa lain,” ucapnya.(korankito.com/ria)