Dirikan 50 Percontohan Ternak Sapi

20160511_134209 (1)
Palembang – Untuk meningkatkan cadangan daging sapi di Indonesia, Kementerian Pertanian akan melakukan pengembangan peternakan sapi.  Rencananya akan dibangun terlebih dahulu 50 peternakan percontohan yang tersebar di Indonesia.

Ketua Komisi IV DPR RI Edhy Prabowo di sela-sela reses di Palembang mengatakan dalam rapat kerja dengan Menteri Pertanian, kepada Dirjen Peternakan, dirinya sudah meminta kepada instasti terkait agar menyiapkan diri menghadapi bulan puasa dan hari raya Idul Fitri.

“Cadangan, stok bahan pokok termasuk daging harus ditingkatkan. Jangan sampai dengan stok yang terbatas akhirnya memicu kenaikan harga sehingga memberatkan masyarakat. Harus segera ada solusi yang diambil sesegera mungkin,” ujar Edhy.

Khusus soal daging sapi, diungkapkannya, memang agak sulit untuk menimbulkan impor. Sebagai solusinya, jangan sampai dikuasai pihak tertentu dalam melakukan impor. Impor harus melibatkan BUMN yang terlibat dalam perdagangan, termasuk salah satunya Bulog. Jangan sampai bila dilepas seperti tahun sebelumnya malah menjadi permainan.

“Untung boleh saja dalam perdagangan. Namun bukan berarti seperti tahun lalu yang menyebabkan harga melonjak sangat tinggi. Kalau mau impor daging beku kita juga persilahkan,” katanya.

Menurut Edhy, upaya jangka panjang yang dilakukan saat ini yakni dengan membeli sapi indukan, bukan sapi potong. Dengan membeli sapi indukan diharapkan kedepan produksi dan stok daging sapi di tingkat lokal akan meningkat.

Sebenarnya Menteri Pertanian melalui Dirjen Peternakan mengajukan 1.500 titik peternakan sapi se-Indonesia. Namun hal ini ditolak Komisi IV karena tidak ada contoh dan belum diketahui hasilnya akan seperti apa.

“Jadi kami meminta agar dibuat terlebih dahulu percontohan. Kami meminta satu provinsi paling tidak ada satu. Ya, paling tidak ada 50 titik saja termasuk di Sumsel. Nah, peternakan percontohan ini akan dikelola oleh kelompok. Setiap kelompok ada 25 ekor sapi. Setelah melahirkan, sapi anakan dibagikan kepada anggota secara bergilir sampai senua kebagian,” katanya.

Jika konsep ini berhasil, barulah dilakukan evaluasi dan akan ditambah lagi. Mengenai peluang Sumsel, Edhy mengatakan sangat besar.  Di Sumsel peternakan sapi bisa dikombinasikan dengan HTI, perkebunan sawit atau pola lainnya.

Menurut Edhy kembali, Sumsel ini sangat menarik dari sisi pasar daging sapi. Berapa pun harga daging sapi tetap saja dibeli. Meski demikian ia berharap ke depan ini tidam terjadi, meski pembeli tidak mempermasalahkan soal harga.

“Jangan pula nanti Sumsel ambil pasokan sapi dari Lampung. Sumsel harus mamlu memproduksi sendiri sapinya,”  ujarnya.(korankito.com/reno)