Alex Instruksikan Bupati/Walikota Tekan Tindakan Kekerasan Anak

 

IMG_20160510_115644_HDR

Palembang – Adanya tindakan kriminalitas dan kekerasan terhadap anak seperti yang terjadi pada kasus Yuyun di Bengkulu beberapa waktu lalu, membuat Gubernur Sumatra Selatan H Alex Noerdin kuatir. Alex Noerdin pun mengintruksikan kepada seluruh walikota, bupati, camat, lurah dan seluruh aparatur negara untuk membuat kebijakan berupa tindakan nyata meminimalisir terjadinya kekerasan seksual pada anak.

“Para pemuda sekarang itu perlu diawasi. Jika ada yang menganggur, harusnya pimpinan baik bupati/walikota ataupun camat/lurah/kepala desa bisa segera memberikan pekerjaan atau berikan hal positif untuk mereka seperti dibangunkan sarana olahraga untuk mereka beraktivitas,” ucapnya saat memberikan sambutan pada kegiatan Sosialisasi Pencegahan Korupsi Pengawalan Bersama Pengelolaan Keuangan-Dana Desa di ruang rapat Bina Praja, Selasa (10/5).

Tindakan kekerasan yang terjadi baik kepada anak ataupun masyarakat lainnya didominasi oleh para pengangguran. Menurut Alex, mereka itulah yang paling banyak memilih judi, mabuk-mabukan dan terjerat narkoba sehingga kriminalitas meningkat setiap harinya.

“Percuma saja memberikan pesan moral kepada mereka-mereka ini. Pesan moral yang kita berikan masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Bupati/walikota harus beri tindakan nyata untuk itu,” jelasnya.

Senada, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel Widodo mengatakan, terkait adanya kasus Yuyun, pihaknya sangat prihatin dan mengutuk tindakan tidak berperikemanusiaan itu. Ia berharap agar kasus itu tidak terjadi di Sumatra Selatan. “Karenanya semua pihak mulai dari orang tua, masyarakat, dan sekolah dapat menyadari tanggung jawab masing-masing. Kita semua harus sama-sama mengawasi anak-anak,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, sekolah selaku institusi yang bertugas mendidik siswa secara formal mesti menyeimbangkan antara akademis, agama, olahraga, dan seni harus seimbang dilaksanakan. Lalu untuk orang tua juga harus menyadari bahwa anak-anak ini perlu figur panutan dan sebaiknya figur itu orang tua. “Masyarakat juga dapat andil menjadi penyumbang nilai positif dan bukan sebaliknya dalam pembangunan karakter bangsa,” tukasnya.

Widodo mengatakan, kekerasan seksual bisa terjadi baik di kota ataupun hingga pinggiran pedesaan. Sebab di desa saja saat ini, individualisme sudah meninggi dan mengakibatkan adanya pergeseran nilai.

“Selama ini di pedesaan kan hubungan antara satu orang dengan orang lain sangat baik. Antara orang tua dan guru juga. Tapi semakin berkembangnya zaman, orang tua dan guru mulai berkurang komunikasinya. Bakhan yang parahnya komunikasi orang tua dan anak pun sangat minim. Karena itu anak-anak lebih berkiblat pada teman dan grupnya. Grup ini lah yang biasanya terlalu bangga dengan kelompoknya dan sangat mudah terpengaruh hal yang berbau negatif,” beber dia.

Untuk itu, kata Widodo, penting adanya upaya bersama baik orang tua, guru dan masyarakat lainnya untuk menjalin hubungan dan komunikasi. “Orang tua juga harus bisa menyimpan nomor seluler guru. Jadi apa yang dilakukan anak disekolah, anak pulang sekolah, atau hal lain bisa dipantau,” tandasnya. (korankito.com/ejak)