Bisa Dipercaya

Rahmat Bacakan Sendiri Pembelaan

IMG-20160509-WA0016

 

Palembang – Sidang lanjutan dugaan Korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) Dinas Pendidikan Pemuda dan Oiahraga (Disdikpora) tahun anggaran 2012-2013 kembali di gelar di Pengadilan Tipikor PN Palembang, Senin (9/5). Sidang yang dipimpin Majelis Hakim Kamaluddin SH. MH beragendakan pembacaan pembelaan oleh terdakwa Rahmat Purnama dan replik (tanggapan) dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas pembelaan dari terdakwa Hasanuddin.

Dalam membacakan nota pembelaannya, terdakwa Rahmat Purnama membacakan sendiri nota pembelaannya. Dimana dalam nota pembelaan terdakwa dengan judul “Saya menjadi korban akibat dari atasan yang serakah” mengatakan, pada pusaran kasus DAK Disdikpora yang menyeretnya sebagai terdakwa melibatkan banyak orang.

Berita Sejenis

Rahmat mengaku sebagai orang bawahan yang hanya sebagai Kepala Seksi (Kasi) tidak mungkin melakukan hal tersebut sendiri, secara pasti tindakan korupsi tersebut dilakukan secara bersama-sama. “Saya bukan orang yang mengambil keputusan tapi hanya menjalankan perintah dari atasan,” katanya.

Bahkan berdasarkan hasil pemeriksaan saksi di persidangan terungkap, ide awal mengenai bagaimana untuk mendapatkan dana DAK tersebut berasal dari atasan. Hal tersebut juga diperkuat dengan pengakuan koordinator sekolah-sekolah pada persidangan ketika ditanya oleh Majelis Hakim apakah uang tesebut di tujukan kepada saya? Dan sontak saja mereka menjawab bahwa bukan , apalagi pada proses penyerahan uang di lakukan di ruangan Hasanuddin.

“Dalam kasus ini saya didakwa sebagai terdakwa atas perbuatan siapa? Sebagai kasi saya diseret dan harus bertanggung jawab. Bukankah seharusnya atasan saya sebagai orang pertama yang mempunyai ide, kenapa tidak di seret dan hanya sebatas saksi saja?,” ujarnya.

Rahmat pun tak kuasa menahan tangis saat harus membacakan mengenai tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) dimana terdakwa harus mengembalikan uang sebesar 2 milyar, dimana bila terdakwa tidak sanggup mengembalikan uang tersebut, maka semua harta benda terdakwa akan disita.  “Tolong pikirkan nasib istri dan ke tiga anak saya yang masih sekolah. Kemana mereka akan pergi kalau semua harta saya disita,” isaknya.

Kendati demikian Rahmat pun mengaku bahwa memang benar ia telah menerima aliran dana dari terdakwa Hasanuddin sebesar Rp80 juta dan sudah mengembalikannya kepada negara. “Dalam tuntutannya saya memperoleh keuntungan Rp2 milyar itu suatu nilai yang sangat besar. Seandainya semua harta dijual sekalipun tidak akan pernah mencukupinya,” katanya kembali dengan terisak.

“Saya sudah 4 bukan di Rutan Pakjo. Apakah adil jika saya harus memikul seluruh tanggungjawab dan mengembalikan uang yang begitu besar. Sedangkan atasan yang menyuruh dan turut serta menikmati dituntut lebih ringan bahkan masih ada yang melenggang bebas dan menghirup udara bebas,” keluhnya.

Senada yang disampaikan Penasehat Hukum terdakwa Rahmat Purnama, Eka Sulastri pada dasarnya sependapat dengan fakta-fakta yang diajukan oleh JPU dipersidangan. Hanya saja ia sebagai penasehat terdakwa merasa keberatan dengan lamanya tuntutan yang dikenakan kepada terdakwa dan membebankan kepada terdakwa Rahmat Purnama untuk mengembalikan uang senilai Rp2 milyar tersebut.

“Kita keberatan dengan lamanya tuntutan dan mengembalikan uang tersebut. Karena berdasarkan saksi dan fakta dipersidangan sudah jelas uang tersebut diserahkan kepada siapa,” ujarnya.

Karena itu ia meminta kalaupun majelis hakim berpendapat lain agar kiranya bisa memberikan hukuman yang seringanya kepada terdakwa.

Sementara pada persidangan dengan terdakwa Hasanuddin memasuki agenda persidangan mendengarkan tanggapan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas pembelaan yang diajukan Penasehat Hukum Hasanuddin. Dalam tanggapannya JPU tetap kepada tuntutan semula yakni menuntut terdakwa Hasanuddin dengan tuntutan kurungan penjara selama 1 tahun 6 bukan penjara dan denda sebanyak Rp50 juta.

Majelis Hakim pun menunda sidang pekan depan dengan agenda pembacaan tanggapan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada tanggal 15 Mei dan akan masuk pada sidang vonis terdakwa Hasanuddin pada tanggal 23 Mei mendatang. (korankito.com/ria)