Bisa Dipercaya

Jarang Sekolah, ZD Dinyatakan Tak Lulus

IMG_20160507_152349_HDR

Palembang – Kegembiraan untuk merayakan kelulusan sebagai siswa SMA pada tahun ini seperti tidak dapat dilakukan oleh ZD salah satu siswa dari SMK PGRI 2 Palembang. Ini setelah dirinya dinyatakan tidak lulus pada ujian nasional (UN) yang berlangsung pada April 2016 lalu. Ketidak lulusan ZD ini pun berdasarkan hasil rapat kelulusan dari pihak SMK PGRI 2 Palembang, Sabtu (7/5).

Kepala sekolah SMK PGRI 2 Palembang Eddyson SPd MM kepada koran kito usai rapat kelulusan membenarkan jika ZD merupakan satu-satunya siswa SMK PGRI 2 Palembang yang tidak lulus UN. ZD yang merupakan siswa jurusan teknik sepeda motor (TSM) dinyatakan tidak lulus dikarenakan ia jarang mengikuti pelajaran di sekolah.

Berita Sejenis
1 daripada 2

“Mulai dari semester ganjil sudah jarang masuk dan mengikuti kegiatan belajar. Setelah tiga hari berturut-turut tidak masuk sekolah tanpa keterangan maka guru bimbingan konseling (BK) menyambangi rumah ZD untuk menanyakan perihal kenapa dia enggan untuk bersekolah dan memberikan nasihat kepadanya. Usai ditemui guru BK, ZD mulai rajin masuk sekolah kembali, tapi hal itu berselang hanya beberapa hari. Pada semester genap ini dia tidak pernah sama sekali masuk sekolah. Orang tuanya pun hanya bisa diam melihat kelakuan anaknya,” ungkap Eddyson.

Dijelaskan Eddyson, berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Budaya (Permendikbud) nomor 57 tahun 2015 mengenai hasil Ujian Nasional (UN) tahun 2015/2016 digunakan sebagai pemetaan mutu program satuan pendidikan, pertimbangan seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya. Hal ini tentu memacu guru untuk meningkatkan prestasi belajar siswanya agar dapat lulus dengan hasil yang maksimal.

“Kriteria kelulusan yang dicanangkan oleh menteri pendidikan berlandaskan Permendikbud nomor 55 tahun 2015 yaitu siswa harus menyelesaikan semua program pembelajaran, memperoleh snilai sikap/perilaku minimal baik, dan lulus ujian S/M/PK. Bimbingan belajar di sekolah pun diterapkan untuk membantu siswa belajar lebih maksimal, mengingat Permendikbud nomor 44 tahun 2014 tentang UN mulai 2016 persentase kelulusan siswa berimbang antara UN dan US (Ujian Sekolah) yaitu 50:50,” jelasnya.

Ketidaklulusan ZD ini disesali oleh sejumlah guru di SMK PGRI 2 Palembang. Nita Ovriani SE mengungkapkan jika sewaktu masih kelas X dulu, ZD termasuk anak yang rajin dan tidak terlibat masalah apa-apa dengan teman sebayanya. Dirinya juga menyayangkan kenapa sampai ia tidak melanjutkan sekolahnya yang tinggal beberapa waktu saja.

“Kami sudah berusaha semaksimal kami dan mengunjungi rumah ZD beberapa kali, namun yang hasil yang kami dapatkan masih saja nihil” ungkap Nita. (korankito.com/ejak)