Bisa Dipercaya

Faktor Lingkungan Picu Anak-Anak Lakukan Tindakan Kriminal

1

Palembang – Peredaran narkotika di Palembang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Bahkan berdasarkan Operasi Bersinar (Berantas Sindikat Narkoba) yang dilakukan oleh Kepolisian selama satu bulan, Palembang menempati urutan pertama peredaran narkotika dan sejenisnya.

Dalam kurun waktu satu bulan sejak diberlakukannya Operasi Bersinar, berhasil menjaring 22 tersangka dengan barang bukti sebanyak 263,07 gram shabu-shabu, 14,70 gram ganja, 12 butir ekstasi serta satu butir narkoba jenis baru Happy Five sebanyak satu butir. Hal ini menunjukkan betapa dengan mudahnya barang haram ini beredar di Palembang.

Berita Sejenis

1500 Ekstasi Diamankan di Dalam Bus AKAP

Butuh Uang, Pengangguran Antarkan Pesanan Sabu

Bandar Sabu Berduel Dengan Polisi

1 daripada 42

Kepolisian bukan hanya menangkap para pemuja dan pengedar barang haram ini. Tetapi juga memusnahkannya. Tapi tetap saja setiap harinya selalu ada masyarakat baik sebagai pemuja bahkan pengedar narkotika ini yang tertangkap oleh aparat kepolisian.

Beberapa waktu lalu, Polisi menangkap pengedar barang haram ini yang ternyata salah satu tersangkanya adalah anak berusia 13 tahun. Ini artinya pelaku pengedarnya bukan hanya orang dewasa saja tapi sudah menjangkau anak-anak di bawah umur. Tertangkapnya anak di bawah umur yang kedapatan ikut mengantarkan barang haram tersebut ke pembeli ditanggapi serius oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Palembang.

Adi Sangadi sebagai Ketua KPAID Palembang mengatakan kasus tertangkapnya anak di bawah umur yang kedapatan ikut mengantarkan narkotika bersama temannya kepada pembeli, menjadi keprihatinan pihaknya. Dimana seorang anak berusia 13 tahun seharusnya sedang dalam masa belajar di sekolah dan bermain dengan anak-anak seusianya. “Tentu kasus ini menjadi perhatian serius untuk kita. Tugas kami sebagai pembina dan perlindungan terhadap anak-anak di bawah umur akan mengawal kasus ini,” katanya.

Menurut Adi, tersangka dengan inisial BS tidaklah bisa diproses secara hukum menurut hukum yang berlaku tentang penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Karena kasusnya berbeda ketika si anak ini melakukan pelanggaran hukum seperti membunuh atau asusila maka ia bisa dikenakan hukuman penjara. “Dalam kasus ini ia bisa diambil BAP-nya sebagai saksi saja. Anak tersebut seharusya dikembalikan lagi kepada orang tuanya. Namun, sebelum itu tentu harus ada pertemuan terlebih dahulu dengan pihak keluarga si anak,” terangnya.

Mengenai siapa yang harus bertanggungjawab ? Adi menjelaskan jika lingkungan dan terutama orang tua si anak yang harus disalahkan. Orang tua si anak dianggap tidak mampu memberikan pendidikan dan kesejahteraan kepada si anak.

Apalagi setelah diselidiki ternyata si anak ini tidak tinggal bersama orang tua melainkan bersama neneknya. Sudah jelas tambah Adi si anak ini tidak mendapatkan kasih sayang dan perlindungan dari kedua orang tuanya. “Sudah jelas di sini anak itu hanya korban. Korban dari kegagalan orang tuanya untuk memberikan penghidupan yang layak kepada dia,” ujarnya.

Dalam kasus ini, tambah Adi, bisa dilihat faktor ekonomi, bisa jadi motif anak tersebut mau mengikuti temannya untuk ikut mengantarkan narkotika tersebut kepada pembeli dengan iming-iming imbalan uang. Dengan mendapatkan uang si anak dapat membantu perekonomian neneknya.

Hal ini juga menjadi suatu tamparan bagi pemerintah. Ibarat pepatah “menepuk air di dulang terpercik sendiri ke muka”, merupakan kegagalan dari pemerintah untuk mengurangi kemiskinan. “KPAID akan sangat menyesal kalau anak ini sampai dihukum,” keluhnya.

KPAID pun akan ikut langsung membina si anak tersebut agar bisa kembali lagi ke lingkungan yang seharusnya dimana ia sebagai anak-anak berada di dalam lingkungan itu. Dan kalaupun orang tuanya tidak mampu memberikan penghidupan yang layak seperti pendidikan dan kesejahteraan si anak, maka si anak tersebut bisa dititipkan ke panti asuhan.

“Semuanya akan di koordinasikan dengan pihak kepolisian yang menangani kasus tersebut. Dan mudah-mudahan pihak kepolisian pun mengerti dengan aturan dari undang-undang perlindungan anak,” harapnya.

Pakar pendidikan Prof DR Abdullah Idi MEd pun menyampaikan hal yang sama. Dimana motif ekonomi bisa menjadi faktor BS yang baru berusia 13 tahun tersebut mau mengikuti temannya mengantarkan paket berisi narkotika kepada pembeli. “Masih bersyukur kalau dia sampai tidak menggunakan. Bagaimana kalau sudah menjadi pemuja barang itu tentu masa depannya sudah hancur,” terangnya.

Himbauan kepada orang tua pun turut disampaikan Abdullah untuk dapat memperhatikan anak-anak mereka. Seperti kebutuhan sandang,pangan dan papan untuk mereka. “Selain kebutuhan penting akan pendidikan. Bukankah sekolah sekarang gratis jadi ga ada alasan ga sekolah karena pemerintah sudah berlakukan wajar yakni wajib belajar,”pungkasnya. (korankito.com/ria)