Peringati Hardiknas, BEM Se-Sumsel Tuntut Perbaikan Kualitas Pendidikan Di Sumsel

IMG_8856Palembang – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Se-Sumatera Selatan (Sumsel) mendatangi kantor Gubernur Sumsel untuk menggelar aksi damai dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Senin (2/5).

Presiden Mahasiswa Unsri, Khairunnas dalam aksinya mengatakan selain untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) juga sebagai momentum untuk menyampaikan terkait problematika di ranah pendidikan, khususnya di Sumsel. “Kami tidak akan berdiam diri jika mengenai permasalahan pendidikan. Kami meminta kepada Gubernur Sumsel untuk memperbaiki permasalahan di bidang pendidikan dan meningkatkan kualitas pendidikan di setiap daerah di Sumsel,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan selain mengenai kualitas pendidikan, persoalan penggunaan kurikulum pendidikan di sekolah dan pemberantasan mafia di ranah pendidikan Sumsel harus diutamakan. Selain itu, pihaknya meminta agar mengoptimalkan peran media dalam meningkatkan kualitas pendidikan. “Media memiliki peran dalam mengontrol semua program pendidikan, sehingga dengan mudah semua bisa diakses oleh masyarakat,” tegasnya.

Aksi damai dari Aliansi BEM se-Sumsel ini diterima langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Sumsel Widodo. Ia mengatakan menyambut baik aksi mahasiswa yang menuntut adanya peraikan kualitas pendidikan di Sumsel. “Saya senang dengan aksi damai yang kalian lakukan. Untuk pernyataan sikap kalian disini pun akan saya sampaikan dan saya perjuangkan baik di tingkat provinsi dan nasional,” katanya.

Widodo pun menjelaskan peningkatan kualitas pendidikan disetiap daerah di Sumsel sudah dimulai. Memang saat ini baru 3 Kabupaten di Sumsel yang memiliki PAUD yakni Ogan Ilir (OI), Prabumulih dan Lahat.  “Kedepannya kita pastikan akan ada PAUD di setiap kabupaten/kotanya,” jelasnya.

Widodo pun menghimbau jika terjadi pungutan di sekolah-sekolah kepada siswa agar segera melaporkan kepada pihaknya. Dan mengenai permintaan untuk memberantas mafia pada penerimaan siswa baru, Widodo mengatakan pihaknya mendorong pihak sekolah menyeleksi menggunakan komputer. “Orang tua bisa memonitor di luar jadi bisa segera tahu hasilnya,” lugasnya.

Menurut Widodo, adanya mafia pada penerimaan siswa-siswi baru karena keterbatasan teknologi. Daya tampung dan kualitas mutu masih kurang sedangkan peminatnya banyak sehingga ada mafia tersebut. “Sumsel berpihak kepada rakyat jadi jangan sampai ada anak yang tidak sekolah,” tukasnya. (korankito.com/ria)