Bisa Dipercaya

Terdakwa Kasus DAK Dispora Palembang jadi Tumbal?

 

Sidang Disdik poraPalembang – Sidang lanjutan dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2012-2013 dengan terdakwa Hasanuddin dan Rahmad Purnama memasuki agenda sidang pembelaan. Namun, pada sidang yang diketuai Majelis Hakim Kamaluddin SH, MH, Kamis (28/4), sidang pembelaan terdakwa Rahmat Purnama ditunda karena ada beberapa hal di dalam nota pembelaan masih kurang sehingga harus dilengkapi lagi.

Penasehat Hukum terdakwa Rahmat Purnama, Eka Sulastri membenarkan adanya penundaan sidang pembacaan pembelaan terdakwa Rahmat Purnama.

Berita Sejenis
1 daripada 3.090

“Ya kita minta ditunda karena ada berkas yang masih harus dilengkapi,” kata Eka Sulastri usai persidangan di Pengadilan Tipikor Palembang, Kamis (28/4)

Ketika ditanya mengenai tuntutan hukuman yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) lebih tinggi dari tuntutan yang diajukan kepada Hasanuddin, Eka Sulastri merasa keberatan. Menurutnya dalam fakta-fakta di persidangan telah terbukti dari mana aliran dana tersebut berasal dan kepada siapa dana tersebut diserahkan.

Terdakwa Rahmat Purnama, kata Eka, memang menerima uang dari para koordinator sekolah-sekolah. Penyerahan uang itu dilakukan di dalam ruangan terdakwa Hasanuddin, sehingga penyerahan uang itu juga diketahui terdakwa Hasanuddin.

“Kami merasa terdakwa sepertinya dijadikan tumbal dalam kasus ini. Padahal sudah jelas rekapan aliran dana tersebut kemana perginya juga sudah ada. Kenapa yang dituntut lebih tinggi dan harus mengembalikan uang yang dua miliar lebih itu hanya klien kami,” jelas Eka

Lebih lanjut Eka Sulastri menambahkan, pihaknya akan melakukan pembelaan semaksimal mungkin, agar klien mereka mendapatkan keadilan. “Ya, kita akan berusaha semaksimal mungkin. Karena itu kita minta tunda untuk melengkapi lagi nota pembelaan kita,” tegasnya.

Sedangkan sidang pembelaan dengan terdakwa Hasanuddin tetap dilanjutkan. Nota pembelaan dibacakan langsung oleh penasehat hukum terdakwa Feri Panjaitan dan Sahat Ambarita.

Dalam keterangan nota pembelaan tersebut, Hasanuddin tetap tidak mengakui perbuatannya yang memerintahkan terdakwa Rahmat Purnama untuk meminta uang potongan dari DAK yang diusulkan untuk perbaikan atau rehab sekolah-sekolah yang ada di Palembang.

“Semuanya inisiatif dari terdakwa Rahmat Purnama sendiri. Klien kita tidak pernah perintahkan itu,” jawab Feri.

Menurut Feri, munculnya potongan 10 persen yang dibebankan kepada sekolah-sekolah penerima dana DAK merupakan inisiatif dari terdakwa Rahmat Purnama. Bahkan Rahmat Purnama juga yang menunjuk koordinatornya.  “Berdasarkan hal-hal yang meringankan terdakwa kita meminta keringanan hukuman untuk terdakwa,” katanya.

Setelah pembacaan nota Pembelaan, sidang yang di pimpin Majelis Hakim Kamaludin, ditunda sampai dengan tanggal 9 Mei dengan agenda replik (jawaban penggugat) dan pembacaan pembelaan dari terdakwa Rahmat Purnama.korankito.com/ria