Pengedar Sabu Asal OI Dibekuk Polda

_20160429_162042Palembang – Sebanyak tiga puluh gram paket narkoba jenis sabu-sabu berhasil diamankan petugas Subdit ll Ditres Narkoba Polda Sumsel dari tangan dua pengedar asal Ogan Ilir. Kedua pengedar yang berhasil diamankan petugas yakni Oma Irama (32) warga desa Pemulutan dan Iwantaro (29) warga Indralaya, Ogan Ilir. Penangkapan kedua tersangka ini setelah petugas kepolisian mengumpan tersangka melakukan transaksi dengan petugas (undercover buy).

Dihadapan petugas, tersangka Iwantaro mengaku jika tiga paket sabu-sabu seharga Rp33 juta tersebut didapatnya dari pelaku Y warga Boom Baru, Palembang yang menjadi rekan transaksinya. Selain itu, tersangka yang kesehariannya bekerja sebagai penarik bentor ini mengaku, jika ia sudah enam kali melakukan transaksi dan sering mengedarkan sabu-sabu di daerah OI. “Sudah enam kali pak, saya beli dari Y. Lalu barangnya saya pecah lagi untuk dijual di OI” ungkap Iwan di Mapolda Sumsel, Jumat (29/4).

Selain Iwan, tersangka Oma mengaku jika dirinya hanya mempertemukan pembeli dengan Iwan, selebihnya ia hanya meminta imbalan berapa saja ke Iwan karena sudah mempertemukan dengan pembeli. “Saya cuma mempertemukan mereka saja pak, saya tidak minta banyak. Kalau dikasih iwan ya saya ambil” akunya.

Sementara itu, Kasubdit ll Ditres Narkoba Polda Sumsel, AKBP Lubis Parlindungan menjelaskan  jika kedua tersangka ditangkap saat hendak bertransaksi dengan petugas di dalam rumah makan Palapa Musi ll Palembang, Kamis (28/4). “Kita lakukan undercover buy, setelah bernegosiasi dengan kedua tersangka dan diajak bertemu. Kedua tersangka langsung kita amankan setelah datang ke rumah makan Palapa” jelas Lubis.

Selain itu, Lubis juga menambahkan jika tersangka Iwan merupakan pengedar yang sudah beberapa kali beroperasi di daerah OI dan kini pihaknya juga tengah memburu Y yang diduga menjadi pemasok narkoba tersebut ke tersangka Iwan. “Tersangka sudah beroperasi beberapa kali, dan untuk Y kini dalam pengejaran. Saat ini kedua tersangka akan kita jerat pasal 112 dan 114 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara” pungkas Lubis. (korankito.com/kardo)