Lahat Pacu Produksi Pangan

PanenBecek, licin serta sempit kondisi itulah yang terjadi saban hari, apalagi kala hujan tiba. Tetapi, hal itu terjadi setahun lalu bahkan jauh sebelumnya. Sekarang, mimpi kelam sepanjang tahun tersebut tak dirasakan lagi oleh petani dan warga Desa Masam Balau, Kecamatan Tanjung Sakti Pumi, Kabupaten Lahat. Betapa tidak, menjelang akhir tahun lalu kondisi akses jalan menuju areal persawahan tersebut tak buruk lagi. ‘’Pacak besepatu, jalan dide licak’an agi ke sawah kele,’’ ujar Sahrul, 39, warga setempat.

Dia mengapresiasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lahat yang telah membangun infrastruktur jalan usaha tani, sehingga para petani maupun warga lainnya dapat lebih nyaman dan memudahkan warga melakukan mobilisasi hasil pertanian saat musim panen.

Memang di desa itu, telah dibangun jalan usaha tani sepanjang 87 meter (m) menggunakan cor beton dan plat duiker yang lebarnya 150 sentimeter (cm).

Rupanya bukan cuma di Kecamatan Tanjung Sakti Pumi saja yang telah dibangun jalan usaha tani, Pemkab Lahat melalui DinasTanaman Pangan dan Hortikultura, serta lewat program Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) upaya pembangunan akses jalan menuju sawah, ladang dan perkebunan juga telah menyentuh mayoritas kawasan pertanian dan perkebunan di Bumi Seganti Setungguan sejak setengah dekade belakangan ini.

Sinergi perangkat Muspida membangun jalan usaha tani terbukti pula telah dilakukan Kodim 0405 Lahat yang melakukan perintisan jalan sepanjang kurang lebih 1 kilometer (km) menghubungkan

Kecamatan Dempo Utara dan Dempo Tengah, lewat ptogram TMMD pada 2014. Titik awal pembangunan jalan itu dimulai dari Dusun Gunung Agung Lame, Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara, dan berakhir di kawasan Talang Jembak, Dusun Sumber Jaya, Kecamatan Dempo Tengah.

Bupati Lahat, H Aswari Riva’i mengatakan, program jalan usaha tani merupakan salah satu prioritas pembangunan yang dilakukannya. ‘’Jalan usaha tani mutlak diperlukan untuk pengangkutan sarana produksi (saprodi) seperti pupuk dan transportasi alat dan mesin pertanian (hand traktor),’’ ujarnya.

Disamping itu, kata Wari — sapaan akrabnya—, jalan usaha tani juga diperlukan untuk pengangkutan hasil pertanian, misalnya produk hortikultura yang mempunyai sifat “perishable” (mudah rusak) yang harus ditangani secara baik dan benar serta berhati-hati sehingga penurunan mutu dan kehilangan hasil dapat dihindari. ‘’Kami telah membangun jalan usaha tani sedikitnya 160 km meliputi sebagian besar kawasan pertanian dan perkebunan warga dan saya menargetkan sebelum masa jabatan berakhir pembangunan jalan telah tuntas 100 persen,’’ paparnya.

Jaringan Irigasi

Pemkab Lahat melalui kepemimpinan Aswari terus memacu peningkatan produksi tanaman pangan menuju Lahat Bangkit 2018. Bukan cuma lewat pembangunan jalan usaha tani yang menjadi fokus perhatian, jaringan irigasi pun dilirik sebagai penunjang. ‘’Menurut saya jalan usaha tani dan  jaringan irigasi  memegang  peranan yang sangat penting dan strategis dalam rangka mendukung pemenuhan produksi pertanian, khususnya tanaman pangan dan hortikultura,’’ ungkap orang nomor satu di Lahat itu.

Aswari menyebutkan, air merupakan salah satu faktor penentu dalam proses produksi pertanian. Oleh karena itu investasi irigasi menjadi sangat penting dan strategis dalam rangka penyediaan air untuk pertanian. ‘’Dengan irigasi yang baik dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan juga dapat meningkatkan Intensitas Pertanaman (IP), sehingga secara langsung dapat meningkatkan produksi tanaman, khususnya tanaman padi,’’ urai Wari.

Data dari kantor DinasTanaman Pangan dan Hortikultura menyebutkan, pembangunan jalan usaha tani dan rehabilitasi jaringan irigasi tersier menunjukan peningkatan dari tahun sebelumnya. (lihat tabel)

Keberadaan jalan usaha tani berpengaruh nyata terhadap pengurangan kehilangan hasil di pengangkutan dan pengurangan biaya pengangkutan, baik itu sarana produksi dan hasil panen. Begitu pula dengan peranan jaringan irigasi tersier berpengaruh pada peningkatan hasil produksi karena tanaman cukup mendapatkan suplai air, disamping itu juga meningkatkan Intensitas Pertananan (IP) (misalnya dari 1 kali setahun/ IP-100 menjadi 2 kali setahun/IP-200). Terbukti pada 2015 hasil produksi padi di Kabupaten Lahat meningkat menjadi 159.669 ton GKG (8.819%) dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya terkumpul 150.850 ton GKG (5.85%).

Selain infrastruktur, juga dilakukan pembinaan kepada Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dan Kelompok Tani, sebagai pihak yang memperoleh manfaat. Agar Petani menyadari dan timbul “rasa memiliki” , sehingga mereka ikut memelihara dan menjaga infrastruktur tersebut secara swadaya. (ADV/HMS)

PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PERTANIAN

No Jenis bantuan Volume (unit)
Tahun 2014 Tahun 2015
1 Pembangunan jalan usaha tani 15 36
2 Rehabilitasi jaringan irigasi tersier 29