Cegah Karhutla, World Bank Gelontorkan 1 Miliar Dollar AS

IMG_0773Palembang-Untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia, World Bank akan mengelontorkan dana sebesar  1 miliar dollar Amerika kepada Pemerintah Indonesia. Salah satu provinsi yang akan menerima bantuan tersebut yakni Sumatera Selatan (Sumsel).

“World Bank akan memberikan bantuan dana untuk Pemerintah Indonesia, bantuan ini diberikan agar Karhutla yang terjadi pada tahun 2015 lalu tidak terjadi kembali,” ujar Ketua Rombongan World Bank Mr Dinesh Aryal usai bertemu dengan Gubernur Sumsel H Alex Noerdin di Griya Agung, Minggu (10/4) malam.

Mr Dinesh Aryal mengatakan, bantuan dana sebesar US 1 miliar dollar tersebut akan diberikan selama 3 tahun. “Bantuan ini diperuntukkan bagi seluruh provinsi di Indonesia yang pada 2015 lalu terjadi karhutla, salah satunya provinsi Sumatera Selatan,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih kepada World Bank yang akan menggelontorkan dana sebesar US 1 miliar dollar untuk mencegah terjadinya karhutla.

“Bantuan World Bank selama kurun waktu 3 tahun ini peruntukkannya diserahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Indonesia,” katanya.

Dijelaskan Alex, bantuan dana sebesar US 1 milyar dollar ini penggunaannya meliputi dua program utama yaitu Fire Prefention and Management sebesar US 200 juta dollar dan sistem informasi US 200 juta dollar. “Jadi  US 400 juta dolar Ini bukan untuk Sumsel sendiri, tapi untuk Indonesia,” ujar Alex.

Alex mengungkapkan, bantuan dana dari World Bank tersebut difokuskan di 6 provinsi yaitu tiga provinsi di Kalimantan, tiga provinsi di Sumatera.”Dan tentunya juga ada di Papua,” ungkapnya.

Lebih lanjut Alex mengatakan, meski pihaknya belum mengetahui kisaran bantuan yang akan diterima provinsi Sumsel, namun pihaknya memastikan bahwa Pemprov Sumsel sudah sangat siap untuk  mengantisipasi terjadinya karhutla. Bahkan dirinya mengklaim bahwa Provinsi Sumsel paling siap dalam upaya pencegahan terjadinya Karhutla.

“Ya, salah satu contohnya Desa Sepucuk di Kabupaten OKI yang mempunyai lahan lebih dari 2000 hektar telah terbakar. Namun, saat ini kondisi lahan tersebut telah direstorasi sehingga kawasan tersebut menjadi lokasi restorasi pertama dan percontohan di Indonesia. Dengan ditanami sejumlah tanaman, salah satunya  jelutung. Ini menjadikan salah satu cerita sukses merestorasi gambut 5 tahun yang lalu, dan bisa menjadi contoh untuk dikembangkan wilayah yang lebih luas,” beber Alex.

Alex menuturkan, selain itu pihaknya juga telah membentuk sebanyak 118 desa peduli atau Fire Care Village di daerah yang mengalami kawasan hutan dan lahan terparah seperti Kabupaten Muba dan OKI.

“Kita juga akan memberikan tindakan tegas kepada perusahaan yang terbukti lalai menjaga kawasan konservasinya. Dengan satu perjanjian yaitu tidak boleh terbakar, kalau masih terbakar kami cabut izinnya, walaupun itu berasal dari  api dari tornado. Inikan membuktikan kalau mereka (perusahaan) tidak siap menjaga kawasannya,” pungkasnya. reno