Bisa Dipercaya

Kapolres, Gudang Peluru Jangan Bocor!

 

Pemusnahan Senjata (2)Palembang-Ada perubahan budaya, mereka yang biasa membawa senjata tajam, kini memegang senjata api. Pemesan senpi, mereka yang memiliki banyak peluru.

Aksi kejahatan dengan menggunakan senjata api rakitan cukup marak terjadi di Sumatera Selatan, belakangan ini. Ternyata maraknya penggunaan senjata api dalam tindak kriminalitas terkait dengan adanya perubahan budaya wong Sumsel. Mereka yang biasanya keluar rumah membawa senjata tajam 9sajam), kini lebih memilih membawa senjata api (senpi) rakitan.

Berita Sejenis
1 daripada 8

Kepastian adanya perubahan budaya ini ditegaskan Kapolda Sumsel Irjen Pol Djoko Prastowo saat pelaksanaan pemusnahan 1.467 senjata api rakitan, yang terdiri dari senpira laras panjang 1.182 pucuk dan senpira laras pendek 285 pucuk.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Djoko Prastowo mengatakan, pada tahun 2015, Sumsel dikategorikan rawan di bidang kejahatan senjata api. Hal itu karena banyaknya produksi senpi rumahan dari warga daerah, yang semula pengrajin besi beralih membuat senjata api rakitan.

“Program operasi senpi Musi ini kita prioritaskan untuk penanggulangan kejahatan, sebab wilayah Sumsel tingkat produksi senpi rakitan sudah masuk tingkat teratas,” ucap Kapolda.

Selain itu, kata Kapolda Djoko, ada peralihan budaya masyarakat Sumsel yang dulunya jika keluar rumah selalu membawa senjata tajam, kini beralih memegang senjata api.

“Ini semua menandakan pembuatan senpira di Sumsel sudah mengkhawatirkan. Polda tidak akan diam, kita akan terus melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan termasuk pemusnahan ribuan senpira yang kita lakukan ini,” tegas Kapolda.

Kapolda juga mengimbau masyarakat agar tak lagi membuat ataupun menyimpan senpi rakitan tanpa izin dari pihak kepolisian, karena melanggar hukum. “Hasil penyelidikan, senpira ini banyak pesanan dari pemilik peluru. Jadi saya perintahkan kepada seluruh Kapolres, jangan sampai gudang peluru ini bocor, karena ini sangat bahaya,”katanya

Menurut Kapolda, daerah di Sumsel yang paling tinggi memiliki senpira adalah daerah Polres Muara Enim, yaitu 539 pucuk senpira, yang terdiri dari senpi laras panjang dan senpi laras pendek.

Sementara itu budayawan Sumsel, Erwan Suryanegara mengatakan, masyarakat Sumsel kalau dilihat dari pola budayanya yakni budaya ladang. Dalam budaya ladang ini, mereka membutuhkan alat seperti senjata tajam  untuk aktifitas mereka sehari-hari seperti memotong rumput dan pohon-pohon yang ada di ladang mereka.

 

“Dulu motivasinya bukan untuk tindakan kriminal tapi untuk kegiatan sehari-hari mereka sebagai penggarap ladang. Nah, seiring perkembangan, tradisi ini masih terus menerus dipertahankan tapi akhirnya ditinggalkan karena tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Apalagi dengan adanya aturan yang melarang membawa senjata tajam,” katanya.

 

Menurut Erwan, adanya perubahan atau pergeseran budaya dari senjata tajam (sajam) ke senjata api (senpi) rakitan ini lebih dikarenakan kebutuhan ekonomi yang semakin sulit.

 

“Ini dikarenakan masalah kemiskinan saja, karena kemiskinan dan kejahatan ini saling berkaitan. Jadi kalau pemerintah daerah Sumsel mau menekan angka kriminalitas dan budaya membawa senpi rakitan maka tekanlahh angka kemiskinan yang ada di Sumsel,” lanjut Erwin.

 

Pergeseran inipun, kata Erwin, dikarenakan pemerintah lalai dalam menekan angka kemiskinan yang ada di daerahnya. “Masyarakat itu berkembang sesuai dengan kondisi yang tercipta dari kebijakan pemerintah. Kondisi ini mungkin dikarenakan pemerintah lalai dalam melihat tingkat kemiskinan,” tegasnya.

 

Mengenai mudahnya masyarakat mendapatkan senpi itu karena  masyarakat Sumsel memiliki kreatifitas. Kreatifitas dalam hal membuat senpi rakitan itu muncul karena kondisi ekonomi yang sulit itu.

 

“Nah, ketika mereka terdesak masalah ekonomi maka mereka akan mengatasi keterdesakannya. Naluri untuk bertahan dan merespon kondisi pun muncul. Seharusnya kalau pemerintah peduli dengan masyarakat yang memiliki kreatifitas seperti itu ada baiknya didorong ke arah yang positif. Ini pemerintah maupun kepolisian hanya mengklaim bahwa itu kriminalitas tapi sebenarnya mereka abai untuk merangkul,” ungkap Erwin.

 

Erwin menyarankan agar pemerintah harusnya melihat permasalahan pergeseran budaya ini dari hulu bukan hanya melihat dari hilir sebagai penyebabnya.

 

“Jadi adanya pembuatan senjata api rakitan itu biasa karena dengan kreatifitas manusia untuk bertahan hidup. Sehingga keterkaitan antara satu sama lain perlu dicermati, tidak secara spontan dan semena-mena kita menyalahkan masyarakat,” katanya.

 

Kriminolog Universitas Sriwijaya, Syarifudin Petanase menambahkan,  yang terjadi bukanlah pergeseran budaya tapi pergeseran perilaku di masyarakat. Tadinya kebiasaan membawa sajam sekarang perilaku kebiasaan membawa senpi rakitan.

 

Penyebab pergeseran perilaku ini, lanjut Syarifudin, tidak jauh berbeda dengan perilaku membawa senjata tajam karena antara senjata tajam dan senjata api rakitan itu mudah didapatkan.

 

“Sama kayak perilaku membawa sajam, kebiasaan membawa senpi rakitan itu hanya untuk gengsi-gengsian saja. Mereka yang membawa itu sebenarnya tidak mengetahui tujuannya. Kalau dulu petani tujuannya untuk menebas rumput di ladang, sekarang tujuannya hanya untuk gengsi saja untuk meningkatkan rasa kepercayaan diri saja yang akhirnya digunakan untuk kriminalitas,” ungkap Syarifudin seraya menambahkan senpi rakitan  mudah dibuat dan mudah didapat oleh masyarakat.

 

Ia juga meminta agar masyarakat menghilangkan perilaku membawa sajam ataupun senpi rakitan dalam aktifitas sehari-hari hanya untuk gengsi.

“Kalau memang keduanya dibutuhkan untuk berladang sehari-hari bisa dimaklumi,” tuturnya.

 

Sedangkan pengamat sosial Universitas Sriwijaya, Prof Alfitri mengatakan, kebiasaan membawa sajam dan senpi rakitan adalah kecenderungan perilaku yang tidak mematuhi norma-norma. Jadi hampir tidak ada semacam pengendali dan pengawasan yang dilakukan masyarakat.

 

“Ini terjadi karena kehilangan kontrol sehingga masyarakat menjadi apatis. Apatisme ini muncul karena pergeseran dimana masyarakat berlomba-lomba mencari dan mengejar materi. Dan ini termasuk dalam bahaya karena kontrol hanya terjadi secara hukum sedangkan hukum sendiri kurang tegas,” ujarnya.

 

Dari perilaku ini, menurut Alfitri, yang terjadi yakni lunturnya budaya malu. Masyarakat cenderung mengalami semacam orientasi yang menghalalkan segala cara. Ini diperparah lagi dengan peredaran narkoba yang membuat masyarakat pemakainya berani dan cenderung melakukan kriminalitas

 

“Sekarang cara mengatasinya yakni harus ada peningkatan peran pengawasan, mendorong pemimpin-pemimpin yang berwibawa dan penegakan hukum yang tegas,” pungkas Alfitri.krdo/reno