Warga Gandus Berharap Jalan Alternatif

20160226_124517Palembang – Keinginan warga Gandus, Palembang, menikmati infrastruktur jalan yang mulus sepertinya hanya harapan kosong. Jalan Lettu Karim Kadir, satu-satunya jalan akses warga Gandus kondisinya sangat memprihatinkan.

Meski sudah dilakukan perbaikan pada akhir tahun 2015, kini kondisinya sudah rusak kembali. Bahkan, jalan ini seperti kubangan kerbau yang penuh lumpur. Saat musim hujan, lubang di sepanjang jalan mencapai ke dalaman 20Cm.

Dari pantauan Koran Kito, kerusakan jalan ini sudah dimulai saat memasuki Jalan Lettu Karim Kadir di bawah Jembatan Musi II. Lubang dan gundukan pasir menyambut pengendara seperti berada di atas gelombang air. Jalan yang berlubang dengan genangan air ini membuat sejumlah kendaraan memperlambat kecepatannya sehingga antrean pun terjadi cukup panjang.

Saat memasuki jalan ini lebih jauh, sekitar 300 meter dari pangkal jalan masuk, pengendara akan merasakan kembali lubang dan gundukan pasir itu.

Di sepanjang Jalan Lettu Karim Kadir ini memang mengalami kerusakan yang cukup parah. Kondisi jalan yang rusak dan dipenuhi ceceran pasir dari truk pengangkut juga genangan air semakin memperparah kondisi jalan.

Herman (42), warga Gandus ini hanya bisa pasrah dengan kondisi jalan ini. Ia mengungkapkan keinginan warga Gandus untuk menikmati jalan yang mulus dan lancar sangat jauh dari harapan.

“Tidak mungkin kami ini bisa menikmati jalan bagus. Lihat saja setiap hari jalan ini dilintasi truk-truk pengangkut karet dan pasir dari truk bermuatan kecil hingga bermuatan besar yang mencapai 20 ton,” ungkapnya.

Herman melanjutkan truk pasir yang melintas itu berlangsung dari pagi hingga sore setiap hari. Truk pasir ini pun tidak ditutup terpal sehingga pasir seringkali berceceran di jalan.

“Truk pasir ini melintas tidak kenal waktu. Pagi sampai sore, terkadang mereka tidak mengerti kalau pagi jalan penuh kendaraan pribadi yang akan beraktifitas sehingga terkadang macet. Harusnya mereka itu di atur jam operasionalnya, kalau pagi jangan dulu mengangkut pasir dan kalau mengangkut pasir harus ditutup terpal,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Bob (56), yang memprotes bobot kendaraan yang sering melintas di Jalan Lettu Karim Kadir. Menurutnya, jalan ini sudah seperti jalan negara yang dilintasi truk pasir bertonase hingga 20 ton milik perusahaan Waskita.

“Ini kan jalan kabupaten/kota dengan kelas jalan tipe C tapi dilintasi truk dengan stiker Waskita bertonase 20 ton. Wajar saja rusak kalau terus menerus dilintasi dengan beban seberat itu,” jelasnya.

Bob menilai pemerintah sepertinya menutup mata dengan kondisi ini tanpa melakukan tindakan apapun. Padahal pihak pemerintah setiap hari melintasi jalan itu.

“Harusnya kan ada solusi dari pemerintah. Kalau memang tidak anggaran bisa bekerjasama dengan sejumlah pabrik yang ada seperti pabrik karet dan depot pasir. Merekakan ikut andil dari kerusakan itu karena truk-truk mereka yang bermuatan besar. Ini coba lihat saja depot pasir saja tidak ditegur kalau di depan gerbang depot mereka penuh gundukan pasir,” jelasnya.(korankito.com/reno)