Napi Gunakan Gadget, Rutan Pakjo Akui Kecolongan

20160328_102410Palembang –  Kepala Rumah Tahanan Kelas IA Pakjo, Palembang, Yulius Shahruza mengakui pihaknya kecolongan dengan adanya beberapa nara pidana yang dengan bebas membawa dan menggunakan gadget selama menjalani tahanan di Rutan Pakjo Palembang. Hal itu terjadi karena masih minimnya jumlah petugas yang menjaga napi.

Yulius yang ditemui sejumlah wartawan mengatakan, jumlah petugas yang dimiliki Rutan Kelas IA Pakjo sebanyak 112 orang dan harus menjaga sebanyak 1.516 orang napi. Saat jam jaga, rutan tersebut hanya ada sebanyak 11 orang yang bertugas.

“Yang berkunjung datang ada lebih dari 200 orang sehari. Banyaknya yang datang membuat petugas sedikit kewalahan untuk mengecek satu per satu orang. Nah mereka inilah yang diyakini menjadi modus masuk dan menyelinapkan gadget atau handphone ke napi,” katanya.

Yulius meyakini handphone tersebut diselipkan di dalam bungkusan gula, baju dan sebagainya oleh keluarga saat membesuk napi. “Razia sudah kita jadwalkan rutin. Setiap kali razia memang terkadang kedapatan ada napi yang menyimpan gadget. Selama 2016 saja, sudah ditemukan ratusan handphone,” ungkap dia.

Handphone yang ditemukan, lanjut Yulius, akan segera disita dan diamankan. Bahkan pihaknya juga merusak dan memecahkan hanphone yang ditemukan dari tangan napi. Selain itu, para napi juga bakal dimasukkan ke dalam sel isolasi sebagai hukuman telah menyimpan barang atau peralatan yang tak seharusnya digunakan.

“Bisa jadi masih banyak. Karenanya kita bakal tambah pengetatan pengawasan atau razia. Ini (bebasnya para napi gunakan handphone-red) adalah hal manusiawi kalau ada kemungkinan lolos, tapi kita ikhtiar maksimalkan pengawasan,” beber dia.

Yulius mengungkapkan, banyaknya napi yang masih bebas menyimpan dan menggunakan handphone karena di rutan tersebut belum tersedia alat pendeteksi yang melacak sinyal penggunaan handphone.

“Ini permasalahan klasik, LP manapun pasti seperti ini, kalau petugasnya minim, maka napi bisa lolos menyimpan handphone atau barang terlarang lainnya,” tuturnya.

Yulius meminta agar ada kepedulian dari pemerintah, BNN dan lainnya untuk dapat memberikan peralatan canggih untuk deteksi pelanggaran ini. reno