Bisa Dipercaya

Awas Begal Pelajar!

MASTER-PELAJAR BEGALPalembang-Berbagai kasus kejahatan banyak dilakukan oleh remaja atau pelajar. Kondisi ini ditengarai akibat pengaruh kelompok sepermainan.

Mulai dari tawuran, pencurian, perampokan, hingga pembunuhan. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Pelajar yang seharusnya menimba ilmu justru berbuat onar yang merugikan masyarakat.

Kasus terakhir penjambret bernama Febri (16) ditangkap ditangkap anggota Polsek Ilir Barat (IB) II Palembang, Selasa (22/3).

Berita Sejenis

Juruparkir Todong Penumpang Bentor

Empat Begal ‘Cilik’ Dicokok Polisi

Motor Baru Ulfa Dirampas Begal

1 daripada 34

Febri yang masih berstatus sebagai pelajar ini, diamankan saat hendak melakukan aksi tawuran di Jalan Talang Keranggo Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan IB II Palembang.

Saat dilakukan penangkapan, warga Jalan Talang Keranggo Lorong Darma Bakti ini kedapatan membawa sebilah pedang.

Soal  aksi jambret yang dilakukannya, Febri mengaku, aksi tersebut ia lakukan bersama temannya, Alex yang sudah terlebih dulu ditangkap.

“Cuma dapat ponsel, kemudian saya gunakan sendiri tidak dijual. Dan saat itu, saya juga yang mengeksekusi sedangkan Alex menjadi joki sepeda motor,” katanya.

Menanggapi persoalan ini, pengamat pendidikan Dr Jalaludin menilai secara normatif sekolah adalah lembaga yang disiapkan pemerintah untuk memperkuat moral bangsa.

“Tujuan pendidikan di dalam undang undang yakni untuk mendidik agar siswa ini beriman dan bertaqwa. Guru punya tanggung jawab moral untuk mendidik agar mereka sebagai siswa beriman dan bertaqwa,” katanya.

Fenomena sekarang, kata Jalaludin, seolah-olah terbalik-terbalik. Jika diurai kesalahan kini adalah kesalahan masa lalu.  “Nah, sekarang ini juga para pemimpin kita ini mencontohkan perilaku yang tidak layak dipertontonkan ke rakyat,” ujarnya.

Jalaludin menuturkan, dalam mendidik itu keteladanan sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku remaja khususnya pelajar. “Perilaku remaja khususnya pelajar sekarang ini karena mengikuti contoh-contoh yang dipertontonkan itu,” jelasnya.

Menurut Jalaludin, pemerintah harus memiliki integritas yang tinggi. Antara kata dan perbuatan pemerintah harus sama sehingga masyarakat dapat percaya pada pemerintah.

Selain itu, orangtua sebagai orang terdekat anak harus meningkatkan perannya sebagai orangtua. “Jangan hanya sibuk dengan pekerjaan sehari-hari tanpa peduli dengan perkembangan anaknya. Tanggungjawab antara pemerintah, orangtua, sekolah sama dan tidak ada yang saling menyalahkan,” katanya.

Penilaian serupa dilontarkan psikolog Adi Suharyono. Menurut Adi, tindakan negatif atau kriminalitas yang dilakukan oleh remaja khususnya pelajar bukan karena pencarian jatidiri ataupun eksistensi diri.

Pelajar yang mulai memasuki masa remaja memiliki kecenderungan untuk meniru yang sangat kuat. “Apapun yang dilihat dan didengar maka akan cepat diterima dan dilakukan kembali oleh mereka,” ungkap Adi.

Informasi tentang tindakan negatif yang didapat dari banyak sumber menjadi pembelajaran negatif pula bagi para remaja. Informasi ini menjadi pemicu untuk melakukan tindakan kriminal.

“Perilaku negatif yang muncul dalam diri remaja khususnya pelajar juga dapat dipengaruhi oleh kelompok. Dalam konteks kelompok, tindakan tidak ia lakukan sendiri. Keberanian mereka itu muncul karena interaksi dengan sesama teman di dalam kelompoknya,” ujar Adi.

Pengaruh kelompok ini sangat besar dalam mendorongan dan mempengaruhi remaja khususnya pelajar dalam melakukan tindakan kriminal.

“Di dalam kelompok ini remaja khususnya pelajar memiliki kebanggaan kalau dirinya bisa melakukan sesuatu yang dikehendaki kelompoknya meskipun yang dilakukannya itu jelas-jelas melanggar hukum atau tatanan sosial yang ada di masyarakat,” tambah Adi.

Untuk menangani kenakalan remaja khususnya pelajar ini, lanjut Adi, ada beberapa pendekatan yakni melalui edukasi. “Menjelang masa remaja, lingkungan keluarga sebagai tempat awal anak berinteraksi harus memperkuat fungsi kontrol. Keluarga harus mencermati dan memantau seberapa jauh anak-anak ini bergaul dan berinteraksi di lingkungannya. Kemudian di lingkungan sekolah yang harus menegakkan perilaku disiplin,” tegasnya.

Sementara itu anggota Komisi V DPRD Sumsel Rizal Kenedi sangat menyayangkannya banyak pelajar yang terlibat kasus kriminal. “Pelajar itu waktunya sebagian di sekolah dan sebagian lagi di rumah sehingha perlu ada kerjasama antara walimurid dan sekolah dalam melakukan pengawasan setiap kegiatan pelajar,” kata Rizal.

Sekolah sendiri memiliki kewajiban untuk memberikan bimbingan seperti keagamaan dan moral sehingga pelajar tidak terjerumus dalam pergaulan negatif.

“Kalau kita lihat pendidikan sekarang ini, anak didik kurang mendapatkan pelajaran tentang agama. Tenaga pendidik lebih fokus memberikan pendidikan ilmu pengetahuan seperti matematika, fisika dan lainnya. Sedangkan ilmu keagamaan dan moral sangat sedikit porsinya,” lanjutnya.

Di rumah juga, menurut Rizal, orang tua sering tidak memperhatikan anak-anaknya. Orang tua sibuk dengan aktivitas kerjanya sehingga tidak ada kedekatan antara anak dan orangtua.

“Anak-anak lepas dari perhatian orangtua karena kesibukan. Sehingga orang tua tidak mengetahui dengan siapa dan apa yang sudah dilakukan anak-anaknya di luar,” tuturnya.

Rizal berharap Dinas Pendidikan harus melakukan evaluasi dan pembenahan terhadap pelajaran yang diberikan. “Sekolah dan orang tua harus bekerjasama dalam mendidik dan mengawasi sikap anak-anak ini. Moral anak jangan sampai terlupakan,” tegasnya. (korankito.com/reno)