Sejahterakan Nasib Petani Karet

Anjloknya harga karet yang mencapai Rp4000 per kilogram dalam dua tahun terakhir yang mengakibatkan para petani karet di Sumatera Selatan (Sumsel) ‘menjerit’ bahkan tidak sedikit kebun karet mereka dibiarkan terbengkalai, kini terus menjadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel.

Asisten bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Sekretariat Daerah Sumsel, Yohannes Hasiholan Toruan mengemukakan, turunnya harga karet juga membuat para petani malas untuk menjual karet dengan harga murah. ‘’Belum lagi hasil jual karet yang tidak mampu lagi menutupi biaya perawatan dan penyadapan karet,’’ ujarnya dalam rapat pembahasan permasalahn petani karet Sumsel di Kantor Dinas Perkebunan Sumsel, awal pekan ini.

Untuk itu, Pemprov Sumsel mengambil langkah penting demi kesejahteraan petani karet dengan cara membagi dua tahap yaitu tahap untuk jangka pendek hingga menengah dan jangka menengah hingga panjang. “Untuk jangka pendek-menengah, kita fokus pada pengelolaan dari bahan mentah ke bahan jadi, serta pembinaan kepada petani untuk meningkatkan kualitas karet,’’ papar Yohannes.

Dia melanjutkan, untuk jangka menengah hingga panjang, kita akan terapkan regulasi yang sangat ketat agar tidak terjadi kecurangan pada pasar karet.

Aturan yang ketat diterapkan, tambahnya, karena sering terjadinya praktik kebohongan yang dilakukan oleh pembeli karet. Misalnya karet yang dijual oleh petani ke pembeli dinilai jelek oleh pembeli sehingga harga karet tersebut turun, padahal kualitas karetnya baik. ‘’Lalu petani pada saat hendak menjual karet terkadang ada yang nakal dengan menambahkan benda lain seperti batu ke karet tersebut. Agar beratnya bertambah saat ditimbang,’’ ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, H Fakhrurrozi mengatakan, untuk menjalankan program ini diperlukan koordinasi dari pemerintah kabupaten/kota agar dapat menjelaskan kepada petani di daerah masing-masing tentang program ini. “Pada 22 Maret mendatang kita akan panggil bupati dan walikota, karena petani-petani ini ada di daerah mereka. Kita juga akan mengundang perusahaan crumb rubber (pengelolaan karet kering) untuk meminta pendapat terbaik,” kata Fakhrurrozi.

Terpisah, Prof Andy dari Universitas Sriwijaya menuturkan, beberapa masalah yang menyebabkan anjloknya harga karet di Indonesia, diantaranya 95% karet Sumsel diekspor. “Jadi yang menentukan harga karet itu adalah orang luar, lalu karet sintetis lebih laku dipasaran dibandingkan karet alam dan kualitas karet kita rendah yang belum mampu mengalahkan kualitas karet negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand,” tutur Andy. (ADV)