Tolak Festival GMT, Ormas Islam Geruduk Kantor Gubernur

 

20160307_104012KORANKITO.com-Palembang

Festival Gerhana Matahari Total (GMT) yang akan dilaksanakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan (Sumsel) di Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak Palembang, mendapat penolakan.

Puluhan anggota Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) Sumsel, Senin (7/3), geruduk Kantor Gubernur Sumsel menyampaikan surat terbuka menolak sejumlah agenda acara Festival GMT.

Ketua HTI Sumsel Mahmud  Jumhur mengatakan, surat terbuka ke Gubernur Sumsel merupakan bentuk kepedulian HTI untuk menjaga dan menyelamatkan aqidah terutama masyarakat Palembang. “Dari agenda yang ada seperti tari pendet, tari kecak, atraksi Ogoh-ogoh bukanlah budaya Sumsel yang akar asli budayanya adalah Islam,” katanya.

Untuk itu, menurut Jumhur, HTI meminta agar Pemprov Sumsel membatalkan Festival GMT itu karena mengandung kemusyrikan dan menghamburkan dana yang cukup besar. “HTI juga meminta membatalkan rencana penutupan jembatan Ampera selama 12 jam karena Jembatan Ampera adalah urat nadi transportasi sehingga menyusahkan masyarakat,” ujar Jumhur.

Kedatangan HTI ini diterima Asisten III Ahmad Nadjib. Ia mengatakan kegiatan Festival GMT adalah kegiatan dari Kementerian Pariwisata sehingga tidak menggunakan APBD Sumsel. “Tidak ada menggunakan APBD, jika pun nantinya ada seni budaya yang tidak sesuai maka akan kita evaluasi kembali,” katanya.

Menurut Nadjib, Festival GMT tetap akan dilaksanakan, dan sebelum pelaksanaan pun akan selalu dievaluasi persiapannya. “Seribu kali adanya penolakan yang datang, Festival GMT ini akan tetap dilaksanakan,” pungkas Nadjib. reno