Lahat Sokong Sumsel Sebagai Lumbung Pangan

AR Panen padiBak permadani, hamparan hijau itu terbentang seakan hendak merambat kaki Gunung Dempo. Pemandangan tanaman padi yang menyejukan mata tersebut telah menjadi ciri khas setidaknya di tujuh kecamatan di Kabupaten Lahat. Tidak salah lagi, ketujuh kecamatan itu yakni Kecamatan Pagar Gunung, Kota Agung, Tanjung Tebat, Kikim Selatan, Jarai, Tanjung Sakti dan Kecamatan Pajar Bulan memang kerap disebut sebagai kawasan sentra tanaman padi di Bumi Seganti Setungguan sejak dulu kala. Maklum mayoritas masyarakat di kecamatan tersebut sehari-hari mencari nafkah dengan bertani atau menanam padi. ‘’Sudah turun menurun mata pencarian kami adalah bertani dan berkebun,’’ ujar Rasyid, 43, petani di Kecamatan Jarai.

Salah satu potensi itu sekarang terus dikembangkan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dinas TPH) Lahat, karena sektor pertanian mampu menjadi andalan pengentasan kemiskinan di kabupaten yang terletak di bagian barat Provinsi Sumsel tersebut.

Menurut Bupati Lahat, Aswari Rivai, daerah yang dipimpinnya tersebut memiliki potensi besar untuk mengembangkan lahan sawah sebagai lahan pertanian terutama dalam kaitannya dengan pelestarian swasembada pangan, peningkatan dan diversifikasi produksi, peningkatan pendapatan dan lapangan kerja, serta pengembangan agrobisnis dan wilayah. ‘’Tahun lalu terjadi peningkatan produksi 9000 ton beras dibandingkan tahun 2014. Tentu itu berkat kerja keras kami serta para petani,’’ ujarnya.

Dia menguraikan, pada 2014 Lahat mampu menghasilkan gabah kering giling (GKG) 150.850 ton kemudian terjadi peningkatan 8,819% atau sebesar 159.669 ton GKG pada 2015. ‘’Namun jika dibanding dengan jumlah penduduk sebanyak 384.600 jiwa dan asumsi kebutuhan beras per kapita per tahun 119 kg, maka pada 2015 produksi beras Kabupaten Lahat surplus 54.409 ton beras,’’ urainya.

Aswari optimistis Lahat merupakan salah satu kabupaten yang mampu mendukung Provinsi Sumsel sebagai daerah lumbung pangan. Tentu, tambahnya, itu bukan sekedar mimpi karena lahat memiliki luas areal persawahan 30.633 haktere (ha). ‘’Tinggal lagi kami terus mengoptimalkan teknologi pertanian termasuk jaringan infrastruktur irigasi,’’ paparnya lagi.

Rupanya apa yang menjadi obsesi sang kepala daerah, untuk terus memacu peningkatan produksi tanaman pangan menuju Lahat Bangkit 2018, sekarang telah dilakukan beberapa langkah strategis, diantaranya lewat penggunaan benih unggul bermutu dan bersertifikat, penerapan sistem jajar legowo, penggunaan pupuk berimbang tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan tepat cara, pengaturan air secara efektif dan effisien.

Selain dengan penerapan teknis budidaya, juga didukung dengan perbaikan dan pembuatan jaringan irigasi tersier, pembangunan jalan usaha tani serta bantuan Alat dan Mesin Pertanian berupa pompa air, handtraktor roda dua, traktor roda empat, alat tanam (rice transplanter), gasrok (alat penyiang), power thresser dan combine havester, cultivator, alat pengolah pupuk organik (APPO beserta rumahnya).

Untuk tahun ini Pemerintah Kabupaten Lahat akan memperluas sentuhan teknologi yang sebelumnya sudah diperkenalkan kepada petani dan terbukti sukses meningkatkan jumlah produksi. Peningkatan perluasan areal tanam dari semula satu atau dua kali menjadi dua atau tiga kali, membuka lahan yang tidak termanfaatkan dan tampang sari di perkebunan muda. Penerapan sistem tanam jajar legowo juga turut disebarluaskan demi tujuan tersebut.

Kepala Dinas THP Lahat, Ir H Hafid Fadli mengungkapkan, sentuhan teknologi pertanian telah terbukti mampu memberikan nilai tambah yang luar biasa. Misalnya adanya irigasi usaha tani ternyata ada perbaikan karena kebutuhan pengairan tenaman terpenuhi sehingga berdampak peningkatan produktivitas. ‘’Sedangkan untuk percepatan dan penyempurnaan pengolahan tanam kita bantu dengan bantuan traktor diharapkan struktur tanah menjadi lebih baik, pertumbuhan tanaman juga lebih baik muaranya pada peningkatan produktivitas,’’ paparnya.

Selain itu, tambahnya, saat panen menggunakan sabit sekarang kita bantu dengan combine haverster, sehingga saat mesin itu bergerak maka panen tidak rontok lagi karena keluarnya dalam bentuk gabah. Sehingga dengan combine haverster maka kehilangan hasil panen dapat ditekan. ‘’Lalu untuk mempercepat dan mengurangi tenaga kerja maka kita bantu dengan alat tanam ricetransplanter sistem tanam cepat dan sistem jajar legowo,’’ katanya. (ADV/Hms)

 

 

Bantuan Alat Pertanian untuk Petani

———————————————————————

No       Jenis Bantuan                          Volume (Unit)

Tahun 2014     Tahun 2015

———————————————————————-

1          Pompa Air                               5                78

2          Hantraktor roda 2                 14              152

3          Traktor roda 4                         0                  3

4          Ricetransplanter                      0                15

5          Power Threser                         9                27

6          Combine haverster                  0                  5

7          Cultivator                                0                20

8          APPO                                      3                  3

———————————————————————-

Sumber : Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Lahat