Kedelai Kikim dari Lahat untuk Sumsel

KedelaiDengan penuh semangat dan wajah semringah sejumlah petani dari Desa Jaga Baya, Kecamatan Kikim Selatan, Kabupaten Lahat, terus mengembang tatkala diajak berbincang soal kedelai. Betapa tidak, sejak panen raya kedelai empat tahun lalu, para petani yang tergabung dalam kelompok tani Jaga Raya, betul-betul menikmati jerih payah serta ketekunan mereka bertani kedelai. ‘’Kami senang, kehidupan kami mulai meningkat ternyata apa yang kami lakukan tidaklah sia-sia, terima kasih untuk pemerintah yang telah banyak membantu,’’ ungkap Ketua Kelompok Tani Jaga Raya, Khairudin, beberapa waktu lalu.

Rasanya apa yang disampaikan Khairudin tidaklah berlebihan. Sebab sejak 2009 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lahat memang telah memberikan perhatian kepada kelompok-kelompok tani tanaman kedelai. ‘’Sejak dulu kami telah memberikan bantuan bibit kedelai kepada para petani dan mereka memanfaatkan itu dengan baik tentu hasilnya sangat membantu untuk kesejahteraan masyarakat,’’ ujar Bupati Lahat Aswari Riva’i.

Ketika itu Pemkab Lahat menggelontorkan sebanyak 1 ton bibit kedelai atau 40 kilogram (kg) per ha untuk para petani Jaga Raya yang mengelola 25 hektare (ha) lahan kedelai, kemudian disalurkan pula untuk 20 ha pada lahan tanaman kedelai yang dikelola Sekolah Lapang Pengelolaan Tanah Pertanian (SLPTT) dibawah naungan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Lahat. ‘’Tiap kali panen rata-rata petani mengantongi keuntungan Rp3,5 juta per ha. Tentu itu sangat membantu petani,’’ papar Aswari.

Bupati menyebutkan, selain menjadi sumber pendapatn para petani, program tersebut juga menjadi sumber pendapatan daerah. Bukan cuma di Desa Jaga Baya saja, tambahnya, saat ini sejumlah petani di desa lain juga mulai melirik untuk bertanam kedelai.

Di Desa Pagarjati, Kecamatan Kikim Selatan, misalnya, pada 2014 lalu petani setempat yang mengelola swasembada kedelai ternyata berhasil mencapai target panen yang menggembirakan.  Tengok saja, dari setiap 1 ha lahan kedelai yang ada, menghasilkan 2,6 ton kedelai, dari sebelumnya hanya sekitar 1,3 ton. Sampai-sampai terget panen tersebut mendapat apresiasi dari Menteri Pertanian (Mentan), Suswono yang ketika itu datang ke Lahat untuk melakukan panen raya. Menurut Mentan, selama ini dari semua lokasi penanaman dan pengembangan tanaman kedelai yang ada di Indonesia, baru di Kabupaten Lahat yang bisa mencapai hasil panen yang sangat membanggakan. “Kerja keras dan dedikasi semua kalangan terkait di lapangan sangat membanggakan, ini terbukti dengan hasil yang di tunjukkan. Kami sangat mengapresiasi apa yang ada di lapangan ini,” ungkap Suswono waktu itu.

Dia yakin, kesungguhan yang dilakukan para petani serta dukungan penuh Pemkab Lahat bukan mustahil peningkatan produksi terus akan dicapai. ‘’Sehingga kami sangat yakin, hasil positif akan bisa terwujud,’’ ktanya.

Kementerian Pertanian (Kementan) memang punya progam yang fokus melakukan peningkatan produktivitas, pengelolaan tanaman terpadu, perluasan lahan pertanian, hingga pengamanan produksi, penguatan kelembagaan, serta pembiayaan. Tentu perlu dukungan Pemerinrah Provinsi (Pemprov) Sumsel serta Pemkab untuk bisa terus mencetak dan membentuk areal-areal penanaman kedelai yang ada, sehingga menjadi satu wilayah sentra kedelai baru di Sumsel, atau hingga ke tingkat nasional

Menanggapi impian itu, Bupati Aswari mengaku, telah membuktikannya dan siap menjadi satu kawasan dan bahkan kabupaten baru, yaitu ‘kabupaten kedelai’. Lahat merupakan salah satu daerah yang memiliki lahan tanaman kedelai terluas di Sumsel, selain Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ilir, dan Banyuasin. ‘’Bumi Seganti Setungguan telah menjadi Kota Kedelai yang di Sumsel dan juga di Indonesia, ” ungkap Aswari.

Data kantor Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Sumsel menyebutkan, tahun lalu Sumsel mampu memproduksi kedelai sebesar 147.000 ton yang sebagiannya dihasilkan dari Lahat atau naik 31,25% dari realisasi produksi tahun sebelumnya 112.000 ton. Disebutkan pula, luas lahan kedelai saat ini mencapai sekitar 11.000 ha, naik hampir dua kali lipat dari luas lahan kedelai pada 2013 sebesar 5.800 ha. Dari 11.000 ha tersebut sebanyak 45,45% atau 5.000 ha diklaim merupakan lahan tetap untuk budidaya kedelai. (ADV/Hms)