Nyamannya Mbah Noni Hidup Sebatang Kara

Aktivitas Mbah Noni yang hidup sendirian, hidupd di dalam gubuk di  Jl Demang Lebar Daun, Palembang. KORKIT/JON

Aktivitas Mbah Noni yang hidup sendirian, hidupd di dalam gubuk di Jl Demang Lebar Daun, Palembang.
KORKIT/JON

Hidup di dalam gubuk berukuran 2×2 meter, kondisi Mbah Noni sangat memprihatinkan. Lansia berumur 80 tahun ini tinggal sebatangkara di rumah kayu yang berada di Jl Demang Lebar Daun, Lr Kancil Kecamatan IB I, Kota Palembang.

Saat hujan tiba ia harus menyiapkan ember untuk wadah air dan ketika panas datang, sengatan matahari menyentuh hingga ke tanah karena atap rumah hanya berlapis terpal tipis. “Ya kalau mau tidur mbah ambil tikar saja, langsung di atas tanah,” kata Mbah Noni, (24/2).

Mbah Noni mengaku sudah 16 tahun tinggal di gubuk yang ia bangun sejak ditinggal suaminya tahun 2000 lalu. Semua aktivitas sehari-hari, makan, tidur, dan mencuci di rumah dilakukan seorang diri.

“Sejak bapak meninggal, saya tinggal sendiri karena tak punya anak. Rumah ini saya bangun sendiri, karena tak kuat memukul palu, saya mengingat setiap rangkaian kayu dengan kawat. Alhamdulillah kokoh,” kata Mbah Noni sembari menunjukkan ikatan kawat di atap rumahnya.

Ia menceritakan, datang ke Palembang tahun 1986 bersama suaminya dari Lampung. Selanjutnya nenek kelahiran Blitar, Jawa Timur ini memilih menetap dan mengontrak rumah. Waktu suaminya masih sehat, Mbah Noni mengaku berjualan nasi untuk orang sarapan di pinggir Jl Demang Lebar Daun.

Ketika usia menginjak kepala delapan, ia memilih berhenti dan memilih bercocok tanan di tanah milik Pertamina yang ia tempati saat ini. “Saya menanam Genjer dan Kangkung. Setiap hari dijual ke pasar pagi simpang Poligon, sore dipetik, paginya dijual,” sambungnya.

Dalam sehari, ia mengaku mendapatkan uang Rp15-20 ribu per hari hasil jualan. Uang tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Cukuplah untuk beli beras dan minum,” tuturnya.

Meskipun tinggal seorang diri, ia tetap menjunjung tinggi harga diri dengan menolak secara halus setiap tawaran orang yang ingin mengontrakkan rumah atau memperbaiki rumahnya.

“Biarlah, alhamdulillah. Di sini tanah pemerintah saya bisa bercocok tanam,” ujarnya lirih.

Hanya saja ia tidak melarang kalau ada yang menawarkan perbaikan rumah lebih layak tanpa merubah bangunan gubuk yang ia tempati. “Kalau malam saya pakai lilin karena tidak ada listrik,” paparnya. “Saya terima kasih mau bagusi rumah, tak tahu ini rezeki dari Allah semoga Dia yang membalasnya nanti. Tapi mbah pengen tetap tinggal di sini saja,” tambahnya.

Sekretaris Camat IB I Gia Vermascu membenarkan kondisi Mbah Noni. Bahkan, pihaknya sudah beberapa kali melihat kondisi dan merayu untuk pindah ke tempat yang lebih layak. “Sekali-kali kami memberikan bantuan kepada Mbah Noni. Tapi berhubung keterbatasan anggaran tidak bisa memberikan banyak. Kami juga berterima kasih jika ada donatur yang bersedia memberikan bantuan,” pungkasnya. reno