Bisa Dipercaya

Sumsel Bentuk Satgas Pengendalian Karhutla

KarhutlaSumatera Selatan (Sumsel) membentuk Satuan Tugas (Satgas) Gerakan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sebagai tindak lanjut dari hasil rapat koordinator antisipasi kebakaran hutan dan lahan 22 Januari lalu.

Menurut Staf Ahli Gubernur Bidang Perubahan Iklim, Najib Asmani, tim itu dikoordinatori Gubernur, Alex Noerdin serta dibantu dua Wakil Koordinator yakni, Pangdam II/Sriwijaya, Mayjen TNI Purwadi Mukson dan Kapolda Sumsel, Irjen Pol Joko Prastowo.

Dijelaskannya, Radalkarhutla tersebut akan memiliki sub koordinator, yakni sub koordinator satgas pemberdayaan masyarakat desa peduli api yang bertugas bidang pendidikan lingkungan/sosialisasi, pelatihan, pemberdayaan masyarakat, pemantauan hotspot, dan evakuasi.

Berita Sejenis
1 daripada 6

Kemudian sub koordinator satgas siaga darurat asap dengan tugas pengamanan teritorial, operasi (darat, laut/perairan, udara) dan kesehatan. Selanjutnya, sub koordinator satgas penegak hukum yang tugasnya sosialisasi penegakan hukum, evaluasi SOP Sapras dan Damkar, solusi konflik lahan, dan patroli. “Belum ada provinsi lain yang membentuk satgas seperti ini, Sumsel menjadi yang tercepat di Indonesia mengantisipasi Karhutla. Ini menunjukkan bahwa Sumsel benar-benar serius mengatisipasi kebakaran hutan,” ungkap Najib usai Rapat Pembentukan Radalkarhutla yang berlangsung di Ruang Rapat Bina Praja Setda Sumsel, akhir pekan lalu.

Najib menyebutkan, pada 3 Maret Radalkarhutla akan dilaunching di Griya Agung. Kegiatan ini akan dihadiri sedikitnya 1.320 personel yang terdiri dari TNI, Polri, PMI, Satpol PP, Masyarakat Peduli Api dan lain-lain, serta 300-500 tamu undangan salah satunya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) yang nantinya akan menuju Kabupaten OKI untuk melakukan penanaman pohon.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Sumsel, Sigit Wibowo mengatakan, berdasarkan Inpres 2015 bahwa dana dari pusat akan disalurkan ke posko-posko pengendalian kebakaran. “Dana dari pusat akan diarahkan ke posko-posko setempat,” ungkap Sigit.

Ditambahkannya, pesawat Cesna yang akan digunakan untuk pemantauan memilki sensor khusus yang dapat memantau titik panas atau hot spot akan dioperasikan hingga akhir November mendatang.  “Pesawat Cesna yang digunakan akan memiliki sensor untuk mendeteksi titik panas yang berpotensi menimbulkan kebakaran, diusahakan akan beroperasi hingga akhir November mendatang,” tutur dia.

Sedangkan Kapolres OKI, AKBP M Zulkarnain menambahkan, untuk mengantisipasi kembalinya kebakaran hutan di Kabupaten OKI pihaknya menyarankan saksi atau pelaku pembakaran dibawa ke Palembang. Tujuannya untuk segera dilakukan pemeriksaan forensik, sehingga menimbulkan efek jera. “Kemarin ada keterlambatan penegakan hukum. Kami sarankan saksi dibawa ke Palembang, sehingga penyidik dapat bekerja dengan optimal dan dapat menimbulkan efek jera untuk perlaku,” pungkasnya. (KORANKITO.com/ADV/Hms)