Medali Bukan Segalanya

Jpeg

Jpeg

KORANKITO.com, Palembang

Keberhasilan atlet meraih banyak medali pada sebuah event, selama ini seakan menjadi tolak ukur keberhasilan pengurus cabang olahraga. Bayang-bayang kegagalan kerap menghantui, jika tidak mampu membawa pulang kepingan demi kepingan medali.

Ikon binaraga Indonesia, Ade Rai saat dijumpai Koran Kito menyebutkan, dirinya justru tidak setuju jika raihan medali menjadi satu-satunya tolak ukur keberhasilan. Menurutnya, ada banyak hal lain terlupakan oleh pengurus cabang olahraga.

Pria kelahiran Jakarta, 6 Mei 1970 ini beranalogi, prestasi olahraga itu ibarat buah pada tumbuhan. Bagaimana mau menghasilakan buah terenak di Indonesia, jika kesadaran bercocok tanam tidak ada.

Bukan mencari solusi, yang terjadi justru ada upaya membeli buah dari negara lain, kemudian diberi label Indonesia dan diklaim buah hasil produksi dalam negeri.

“Akhirnya budaya mencatut atlet dari daerah lain kian berkembang, terutama pada event olahraga tingkat nasional seperti Kejurnas dan PON. Jangankan level nasional, tingkat Porprov pun masih terjadi,” ujar Ade Rai

Budaya tersebut, lanjut atlet peraih medali emas Sea Games 1997 ini, perlahan bisa dirubah dengan mulai belajar bercocok tanam. Mulai dari pemilihan tanah yang subur, pembibitan, sampai pada pemberian pupuk dan perawatan.

Lebih lanjut Ade Rai menambahkan, saat ini pengurus cabang olahraga, lebih mengedepankan hasil daripada pengembangan, karena tolak ukur keberhasilan kepengurusan, cenderung pada berapa medali yang berhasil diraih.

“Para pimpinan pengurus cabang olahraga tidak sabar. Rata-rata menginginkan hasil juara pada masa kepengurusannya, bukan mengacu pada pembibitan dan pengembangan atlet,” ujar alumni Universitas Indonesia ini.

Seharusnya, pengurus cabang olahraga memasang target bukan medali atau jangka pendek, melainkan minimal 10 atau 20 tahun ke depan. Jadi berangkat dari proses pembibitan atlet muda potensial.

Mentalitas asal comot, lanjut pemilik nama lengkap I Gusti Agung Kusuma Yudha Rai ini menilai, jika dibiarkan, akan menghambat prestasi olahraga. Semua pihak hanya peduli pada hasil yang mengakibatkan proses terabaikan.