Peduli Kebersihan Lingkungan Rakyat

Sidak SungaiDerasnya arus berpadu dengan suara air yang menerpa bebatuan di sepanjang Sungai Lematang serta berlatar belakang bukit Selero, menjadi nilai tambah bagi Kabupaten Lahat.

Pemandangan eksotis itu telah menjadi ikon Bumi Seganti Setungguan sejak dulu kala. Sungai yang hulunya di dataran tinggi Pasemah terus memanjang mengalir melalui Kabupaten Muara Enim lalu bertemu di Sungai Enim hingga bermuara di Sungai Musi tersebut, dulunya kerap dilewati kapal-kapal dagang besar, wajar apabila di sepanjang tepi sungai hidup kelompok-kelompok warga yang disebut Suku Lematang. Hingga kini sungai itu, masih menjadi kawasan pemukiman masyarakat empat kecamatan di Lahat.

Masyarakat masih menjadikan Sungai Lematang sebagai aktivitas kehidupan sehari-hari, seperti mencuci, mandi dan kakus. ‘’Saya serta ratusan keluarga lainnya di sini memang mengandalkan Lematang sebagai tempat mandi, mencuci serta buang air. Maklum kami sudah terbiasa seperti itu, sungai merupakan bagian dari hidup kami turun temurun,’’ ujar Sukri, 46, warga Desa Muara Lawai, Kecamatan Merapi, awal pekan ini.

Bukan cuma Sukri dan masyarakat yang berdomisili di tepi sungai, tidak sedikit pula warga dari kecamatan lain kerap memanfaatkan Lematang untuk mandi maupun aktivitas lainnya ataupun sekedar mengambil air untuk dibawa pulang. Hal itu biasanya dilakukan warga secara berbondong-bondong ke Sungai Lematang dikala musim kemarau panjang sebagai imbas dari mengeringnya sumur-sumur warga. ‘’Kalau memasuki musim kemarau, mau tidak mau saya bersama sejumlah warga lainnya mengambil air ke Lematang menggunakan jerigen,’’ ungkap Dodi, 36, warga Kelurahan Gunung Gajah, Kecamatan Lahat Kota.

Maka tidak perlu heran jika terlihat pemandangan jamban gantung tempat warga buang air besar berjajar di pinggiran Sungai Lematang, akibatnya aliran sungai itu mulai tercemar. ‘’Masih banyaknya jamban gantung di daerah pedesaan memang cukup memprihatinkan,’’ kata Kabid Pengendalian Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Lahat Farida Hasibuan. Prilaku warga itu, tambahnya, dikhawatirkan dapat menimbulkan bibit penyakit.

Kondisi itu ternyata tidak luput dari perhatian Bupati Lahat Aswari Riva’i. Menurutnya kebiasaan masyarakat mandi, mencuci serta buang hajat di sungai secara perlahan dilakukan edukasi. ‘’Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lahat mengimbau kepada seluruh warga yang tinggal dan menggunakan Sungai Lematang untuk tidak melakukan pencemaran sungai,’’ ujar Aswari, beberapa waktu lalu.

Bupati juga meminta agar menghindari menangkap ikan dengan cara menyetrum, soalnya hal itu akan mengganggu lingkungan serta ekosistem alam, yang berdampak bagi kehidupan masyarakat yang lebih luas. Pemkab Lahat, tambah Wari —sapaan akrab sang bupati— sejak 2013 telah mencanangkan program melindungi Sungai Lematang, salah satunya dengan cara menggalakkan prilaku tidak membuang air besar sembarangan di sungai yang selama ini biasa dilakukan warga.

Untuk mewujudkan hal itu, salah satunya dilakukan dengan cara membagikan ribuan kloset untuk setiap keluarga di seluruh pelosok Kabupaten Lahat. Pembagian diprioritaskan di kawasan atau desa yang berada di tepian Sungai Lematang. Sehingga lambat laun mereka mengerti, sekaligus menyadari pentingnya menjaga lingkungan. “Awalnya susah memberikan pengertian, tapi lambat laun warga bisa memahami. Apalagi ini untuk kelestarian dan kebersihan lingkungan. Di tiap desa, mungkin hanya ada lima rumah waktu itu yang punya sanitasi yang baik,” papar Aswari.

Mendapat Apresiasi Pemerintah Pusat

Survei Dinas Kesehatan Lahat mengungkapkan, dari 45 keluarga yang menggunakan jamban gantung 35 keluarga diantaranya mulai beralih ke sanitasi yang baik setelah dibagikan kloset gratis. “Dinkes akan terus memicu sistem sanitasi kepada penduduk desa yang memang belum memiliki kloset layak pakai, sehingga mereka tergerak untuk membangun sarana prasarananya,” ujarnya, sembari menyebutkan apabila telah terpasangnya sanitasi di pemukiman penduduk maka diharapkan tidak ada lagi warga yang buang hajat sembarangan. ‘’Petugas akan terus melakukan monitoring perubahan perilaku masyarakat untuk sanitasi agar mereka mengadopsi perilaku hidup bersih dan sehat,’’ katanya.

Dalam program itu Wari harus merogoh kocek sendiri membiayai pembuatan sanitasi dan warga pun bergotong royong membantu mewujudkannya. Dengan dana yang terbatas, kakus cukup dibuat dari fiber. Yang penting, jumlahnya banyak. Hasilnya, 1.000 kakus bisa dibangun dalam waktu sebulan dan Wari meraih penghargaan Ksatria Bakti Husada atas prestasi yang sangat luar biasa dan berjasa besar dalam mendukung keberhasilan pembangunan bidang kesehatan dari menteri kesehatan, pada 2013.

Bukan cuma itu, Pemkab Lahat juga terus berbenah melakukan penambahan sambungan untuk pelanggan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lematang. Saat ini baru terealisasi sekitar 40 ribu sambungan dan ditargetkan akan ada 20 ribu sambungan baru lagi untuk warga di lahat. ‘’Itu sejalan dengan program pemerintah pusat yang menargetkan tahun ini terealisasi 10 juta sambungan untuk rumah tangga dan hingga 2019 tercapai 20 juta sambungan,’’ tambah Wari.

Untuk memenuhi permintaan air bersih tersebut, tegas Bupati, direncanakan mengambil sumber air baku dari Kecamatan Gumay Talang yang berjarak lebih kurang 20 Kilometer dengan sistem grativasi. Ditambah lagi telah rampungnya bendungan yang dibangun PT Brantas maka penyaluran air dapat dilakukan dengan kecepatan 200 liter per detik, plus 150 liter per detik. “Tentunya dengan resevoar (bak penampungan) mencapai 1.500 meter kubik dan ditambah lagi dengan kapasitas sama, agar penyaluran air bersih ke pelanggan terpenuhi,” urai Aswari. (KORANKITO.com/ADV/hms)