PLTU Mulut Tambang, Dari Lahat Menerangi Sumatera Selatan

IMG-20160213-WA0017_OLDeru mesin turbin terdengar menggema menepis kicauan burung dan serangga hutan di sebuah sudut Desa Sirah Pulau, Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan (Sumsel), kala senja akhir pekan lalu. Sejumlah petugas berseragam oranye dengan helm warna yang sama sibuk hilir mudik di lorong sempit antara mesin-mesin raksasa berwarna biru. Suasana tersebut kini mulai menjadi rutinitas di area Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Banjarsari, setelah diresmikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said, bersamaan dengan groundbreaking proyek PLTU Sumsel 8 di Kabupaten Muara Enim, pekan pertama November tahun lalu.

Pembangkit listrik mulut tambang pertama dan terbesar di Asia Tenggara (Asean) yang mulai dibangun 2012 itu memiliki kapasitas 2×110 Mw terletak di dua desa yaitu Desa Sirah Pulau dan Gunung Kembang, Kecamatan Merapi Timur, Lahat atau berjarak sekitar 200 km dari Kota Palembang. “Dari kapasitasnya, kedua PLTU ini adalah PLTU Mulut Tambang pertama terbesar di ASEAN,” ujar Sudirman ketika itu.

Menteri ESDM mengatakan, pembangunan PLTU itu diharapkan mampu menambah pasokan dan meningkatkan keandalan listrik di Sumatera. ‘’Selain itu merupakan bagian dari upaya diversifikasi pembangkit non BBM, sehingga mampu menurunkan biaya pokok penyediaan listrik yang berpengaruh pada pengurangan subsidi listrik,’’ tambahnya.

PLTU mulut tambang berbahan bakar batu bara berkalori rendah antara 4500 kcal/kg sampai dengan 6000 kcal/kg yang diambil dari tambang Muara Tiga Besar Selatan Milik PT Tambang Batu Bara Bukit Asam (PT BA). PLTU Banjasari menempati area sekitar 50 hektare (ha) dengan ketinggian 67 meter di atas permukaan air laut, serta berjarak sekitar 600 meter dari Sungai Lematang dan berlokasi di tengah hutan kayu. ‘’Jabatan bupati itu amanah karenanya kita harus mengutamakan masyarakat yang memberi amanah itu. Itu yang kami lakukan (membangun), di Lahat tidak ada mal atau apa, tapi kami membangun kebutuhan masyarakat. Bangun jalan, pembangkit listrik. PLTU itu untuk mengatasi agar tidak perlu pusing mengangkut batu bara keluar Lahat,” ujar Bupati H Aswari Rivai SE.

Aswari mengungkapkan, PLTU Banjarsari hanya berjarak sekitar 4 km dari mulut tambang batu bara sehingga pasokan menjadi sangat gampang untuk dilakukan. Begitu pula dengan lokasi yang bersebelahan dengan Sungai Lematang memudahkan pengambilan air untuk sistem pendingin PLTU Banjarsari, sebuah sistem yang sangat vital untuk kelangsungan kegiatan pembangkit tersebut.

 

Keban Agung

Bukan cuma PLTU Banjasari, sebelumnya Lahat telah memulai proyek pembangkit listrik mulut tambang di Keban Agung di Desa Kebur, Kecamatan Merapi, pada 2009 yang memiliki kapasitas 2×135 Mw. Proyek pembangkit listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP) tersebut dibangun oleh PT Primanaya Energi berdasarkan IUKU-Sementara nomor 407-12/20/600.3/2007 tanggal 29 Oktober 2007 dengan investasi USD 230 juta.

Keberadaan PLTU Keban Agung sebagai upaya untuk menjawab tantangan kebutuhan listrik di wilayah Sumsel yang dalam lima tahun terakhir pertumbuhannya sebesar 11,3%. Diharapkan PLTU Keban Agung salah satu yang dapat membantu pemerintah dalam merealisasikan target proyek energi listrik sebesar 35.000 MW hingga 2019.

Bupati Aswari mengatakan, PLTU Keban Agung dibangun oleh 100% tenaga serta pendanaan dalam negeri. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lahat, paparnya, juga menyiapkan tenaga lokal dari Bumi Seganti Setungguan untuk dapat diserap. ‘’Kami mendirikan Akademi Komunitas Negeri (AKN) sebagai upaya peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang handal. Apa lagi jurusan yang tersedia di AKN meliputi jurusan elektro PLTU, pertambangan batu bara dan tehnik alat berat. Kami berharap banyaknya perusahaan pertambangan, PLTU dan Alat berat dapat menyerap SDM Lokal sehingga rakyat Lahat tidak menjadi penonton,’’ kata Aswari.

Bupati Lahat optimistis, daerahnya bakal menjadi pionir penghasil listrik dan akan menjadikan Sumsel provinsi surplus listrik. Sebab di kabupaten yang berada di sebalah barat daya Kota Palembang itu mampu menghasilkan daya listrik 1500 Mw yang dihasilkan dari dua PLTU mulut tambang serta pembangkit listrik panas bumi.  ‘’Saya meyakini ke depan Lahat akan menjadi daerah industri dengan listrik melimpah,” tegas Bupati.

Terkait ketersediaan batu bara, menurut Aswari, dipastikan aman untuk 30 tahun ke depan. Bahkan berdasarkan riset stok batu bara yang ada jauh lebih besar dari 30 tahun dengan kalori 4.600 kcal.

Dipihak lain, Manajer Operasi dan Penguji PLTU Keban Agung, Suhendro mengaku, kebutuhan batu bara untuk dua unit PLTU Keban Agung sekitar 120 ton per bulan.

Dia juga menjelaskan, pihaknya akan melakukan pengebangan proyek PLTU Keban Agung yang sebelumnya 2×135 Mw menjadi 4×135 Mw mengingat tingginya permintaan listrik di wilayah Sumatera bagian selatan (Sumbagsel). ‘’Energi listrik yang dihasilkan dari PLTU Keban Agung akan dialirkan melalui jaringan transmisi 150 kV ke Gardu Induk (GI) Lahat dan kemudian masuk ke sistem kelistrikan PLN Sumatera bagian selatan (Sumbagsel),’’ paparnya. (KORANKITO.com/ADV/Hms)